Try

on 03.47



Cast:
-          Im Eunyoung―Park Channie
-          Moon Jongup
-          Kim Himchan & Bang Yongguk
-          Jung Soo Jung
-          Kim Yura
-          ―others―

Genre: Unknown
Rated: (( just for precious reader.))
Length: unknown
Author: Herbst.

Life is either a daring adventure or nothing at all.




            Kawasan Gangnam masih diselimuti salju pada saat itu. Dua orang gadis masih berada di dalam butik skin care dalam balutan baju branded mereka. Para pegawai memberikan pelayanan terbaik pada kedua gadis itu―sekalipun salah satu diantara mereka sama sekali tidak tertarik dengan botol botol krim wajah dan parfum. Ia hanya memainkan ponselnya, bahkan tidak begitu peduli pada tatapan bahkan para pramuniaga disana. Barang belanjaannya masih berserakan disekitar kakinya.
            “Kau sungguh tak inginkan ini? Krim krim ini sedang murah. Ada diskon khusus buatku, mengingat aku adalah pelanggan disini. Jika kau mau, aku akan berikan diskon khususku itu untukmu..”
            Salah satu dari kedua gadis disana. Mereka lah satu satunya pengunjung butik skin care ini. Gadis yang masih memainkan ponselnya itu hanya menoleh ke arah sumber suara, sebentar, lalu kembali ke ponselnya lagi. “kan sudah kubilang, aku tidak suka menggunakan krim macam macam seperti itu..”
            “Channie-ah, kau perempuan~!”      
            “Lalu?” gadis yang baru saja dipanggil Channie itu hanya tersenyum, kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku coat merah miliknya. Di tangan temannya itu sudah ada beberapa tas kertas yang bisa ditebak isinya adalah beberapa kosmetik dengan harga diatas 5$ USD. “Sudah malam, Soo Jung-ah, kau jangan merayuku untuk membeli produk ini, oke? Kulitku tidak akan cocok.” Tentu saja ada makna tersendiri dari kata Channie barusan. Tapi Soo Jung terlalu masa bodoh dengan itu. Ia akhirnya menyerah kepada keputusan temannya itu dan beranjak pergi. Tapi sesampainya dipintu keluar dari butik itu, ponsel Channie berdering.
            yeoboseo?” ujarnya. Lalu beberapa detik kemudian, wajah Channie menegang, namun langkahnya masih santai. Intuisinya bekerja dua kali lebih cepat. Orang yang berada di ujung sana masih berbicara―memberikan beberapa nasihat untuk Channie. Channie kemudian memejamkan matanya sejenak, berusaha mencerna kata kata sang penelpon. Soojung yang sedari tadi berjalan di depan Channie menghentikan langkahnya dan sedikit khawatir melihat wajah Channie yang tiba tiba memucat.
            “aku tidak akan bisa mencerna ucapanmu. Demi Tuhan, aku sangat terkejut sekarang.”
            “.................”
            “Aku mengerti. Hubungi saja aku lagi besok.” Channie kembali mengantongi ponselnya sebelum melanjutkan menyusul Soojung yang sudah masuk ke dalam mobilnya.
            “Kau tak apa?” tanya Soojung khawatir. Channie mencoba tersenyum.
            “Baik, hanya sedikit pusing. Itulah guna aku menyuruhmu pulang dari tadi. Kau saja yang menyetir ya.”

***
            “Kau di daerah Gangnam? Aku melihatmu. Juga seseorang yang mengikutimu. Apa kau menggunakan coat berwarna merah?”
            “.............”
            “Jangan tunjukan ekspresi terkejutmu. Jaga sikap. Jangan buat mereka curiga. Aku akan menyuruh Yongguk Hyung mengirim muridnya untuk berjaga radius 1KM dari rumahmu. Jangan menginap dirumah Soojung.”
            Terdengar helaan nafas, “aku tidak bisa mencerna ucapanmu. Demi Tuhan aku sangat terkejut sekarang.”
            “Besok kita bisa bertemu? Sebenarnya belum saatnya aku memberitahukanmu hal ini. Kita bicarakan besok saja.”
            “Aku mengerti,” terdengar helaan nafas pelan. “hubungi saja aku lagi besok” Kim Himchan menutup ponselnya. Namun ia mengurungkan niatnya dan kembali mengambil ponselnya. Ia menghubungi nomor Yongguk disana.
            “Yongguk-ssi, kirim tiga anak buahmu. Pion dua sedang diawasi. Pihak pion satu bergerak diam diam.”

***
            Himchan tidak menghubungi Channie tepat seperti janjinya, namun ia langsung menuju rumah Channie dan menghampiri gadis itu tepat ketika gadis itu sedang menyikat giginya. “Jika menghubungimu, akan terlalu memakan waktu. Biar kujelaskan di ruang tamu. Cepatlah keluar.”
            Channie mendengus. Tidak menjawab kata kata Himchan barusan dari lur kamarnya dan meneruskan menyikat giginya. Sekalipun Himchan baik, tapi terkadang Himchan tidak sopan dan suka seenaknya. Himchan juga tipikal orang yang susah diajak bercanda.
            Beberapa saat kemudian, ia sudah ada di lantai bawah, bersama Himchan. Himchan menggunakan pakaian formal, yaitu setelan jas dan celana panjang. Sedangkan dirinya hanya menggunakan kaus lusuh dan celana pendek yang hanya menutupi separup pahanya.
            “Target selanjutnya masih unknown, namun tugas kali ini tidak begitu sulit. Kau hanya dipekerjakan untuk menjaga anak wakil presiden kita, Moon Jongup. Kenapa aku memperkerjakanmu, karena kau seumuran dengannya. Dia kelahiran 95 dan kau 96, hanya selisih setahun, dan aku rasa itu tidak terlalu formal.”
           “Kau memperkerjakanku dengan target unknown? Apa kau bercanda? Dan asal kau tahu, Jongup itu adalah, er, Badboy.”
           Himchan tertawa. “Pihak intelegent negara yang akan mengusut teror yang terjadi belakangan ini di istana. Jangan bilang kau belum tahu kasus teror yang terjadi di istana?”
            Channie hanya mengangguk. Ia masih sibuk mempelajari file tentang orang yang harus dikawalnya. Dalam catatan itu, tampak sekali Jongup merupakan anak yang cukup susah diatur. Channie menghembuskan nafasnya berat. Bukan karena targetnya yang bosa saja para teroris atau ia grogi akan menjaga salah satu keluarga Istana. Namun Jongup terlihat memiliki sifat yang paling tidak disukai oleh Channie―keras kepala. Channie menghembuskan nafasnya berat untuk kesekian kali. Hanya satu hal yang tidak ingin terjadi―dan terlihat sangat sukar. Ia takut ia tidak bisa akur dengan anak wakil presiden itu. Dan dampaknya pasti akan sangat rumit.
            “Dan satu hal yang mengejutkan, untuk Soojung, hari ini ia sudah dibawa ke Singapura, ia harus di selamatkan juga. Setelah aku sadap, aku mengetahui markas mereka.  Dan kau sudah pasti tahu resikonya kan? Bagaimana? Kau siap?”
            “Tidak ada pilihan lain, kan?” Channie menatap lekat lekat foto Jongup. “apa dia termasuk anak liar?” Himchan hanya tersenyum. Channie mengakui, senyuman Himchan terkadang manis walaupun terkadang menyeramkan.
            “Dia memang punya segudang catatan buruk, namun tidak semenakutkan itu. Percayalah..”

***
            “Kalian yakin perempuan ini bisa menjagaku? Usianya bahkan jauh lebih muda daripada aku.”
            Demi Tuhan, Channie merasa dilecehkan. Ia memutar bola matanya dan menggulung rambutnya kebelakang. Kalau diijinkan, ia bisa saja menghajar laki-laki itu sekarang juga.  Sebisa mungkin ia menahan emosinya, setidaknya selama Himchan dan Yongguk tidak ada disisinya saat ini.
            “Jika dia tidak bisa menjaga anda dengan baik, saya yang akan bertanggung jawab.” Channie menoleh dan sedikit terkejut mendengar Himchan berkata demikian. Channie hanya menatap ke arah Jongup dingin, Jongup pun membalas tatapannya dan sepertinya tidak berpengaruh terhadap Channie.
            Disisi lain, Jongup memperhatikan perempuan yang menatapnya tajam. Perempuan yang terkesan lebih keras sekalipun umurnya setahun lebih muda darinya. Ia akhirnya mengiyakan saja ucapan Himchan yang berusaha meyakinkan Jongup agar bisa mempercayai kemampuan Channie.
            “Baiklah,” Jongup berdiri, ia menghampiri Channie yang berdiri tak jauh darinya sambil melihatnya ogah-ogahan. “Siapa namamu?”
            “sebut saja Im Eunyoung..”