catatan kesekian

on 09.32

# Mencintai seseorang hanya karena ia memahamimu adalah keras kepala;
[ wonwoo's made it be, thanks bro! ]


Aku hidup untuk kesepian, seperti juga aku akan mati kesepian
Tawa yang menampar - nampar langit - langit basah
Desah yang menggelosor di ranjang tak bertuan
Peluh bahagia yang tumpah di tubuh, tanpa jiwa seperti menikam kesunyian

Inikah hidup kesepian?
Aku belum menemukan jawab.
Sampai detik ini, bejatku masih mengendus bau manismu
Berbalut dingin angin menusuk, dalam irama musik malam.

Menyentuh desir angin kesepian iming - iming bau pagi,
memeluk raga rembulan,
menghias wajah langit kelam
Sepikah hidup ini?
Jika saja mampu kusingkap kerudung hitam di mataku, akan kucari jawaban sepiku
Bilakah ada waktu sehari saja, kudekap raga dan hatimu
Akan kucari makna sepi yang kau pagutkan, lewat sendu hambarmu
Sungguh, aku tak habis pikir,
Mengapa puluhan bintang di atas yang menyapa
dengan kemerlipnya yang memesonakan mata
tak menyisakan apapun, kecuali bias cahaya putih yang berpedar?

Tetap saja sepi ini menggerogoti warasku
Sehari serasa semusim,
semusim pun bahkan....,jadi sehari
Terlalu dalam menerjemahkan sepi ini, dalam logika yanglongsor tanpa arah
Terkikis begitu saja, lalu tahu tahu aku sudah berdiri
di tepian jurang ketidakberdayaan dan keputusasaan

Tak bisa kuendus nafsu jiwamu selain raga mati,
yang meniupkan aroma bunga melati, di temaram lampu
Melanakan, tanpa arti yang tersisa
Hambar dan basi
Dan, sepi yang kutiduri, juga.

?

on 06.06

i have nothing to say, except i cry.

Itu yang gue rasain waktu gue nulis ini. Serius, seems like I have much on mind, tapi nggak bisa explain satu per satu. Gue berasa jadi lebih sensitive dan peka. Tapi jujur, gue gak pernah bisa marah. Gue cuma bisa nangis, dan tanya ke Tuhan, “gue kenapa kayak gini?”.

Someone told me, if I shouldn’t to build a high wall for covering myself. But to be honest, I don’t know what he was meaning it. I mean it in my own way (lol) I have a probs, much probs. But as long as I breath, I just keep silent. Covering myself, do everything by myself, clearing my probs by myself. I need bestfriend, I need someone whom can I ask for sharing. Now I have nothing. I didn’t believe they’re anymore. No.

I know everyone is changed. And everyone is possible to hurt someone. But he, hurt me a lot. I keep on quiet, because I won’t lose him, and hope he will change. I keep on secret if in facts I got hurt. I save it by myself, eventough I didn’t strong enough, but I will weaker if he leave me. I tried to notice him, but he didn’t get my notice. Dear, I just want we be like yesterday. Closer, and share each other everytime we need each other. not like today, we becoming far, far, far.

Maybe it’s my fault. I keep revenge on him. So I try to give you space for himself, for he play with himself. With his own world. And I build a high wall for covering me from him. I’m just a disturber, isn’t it? I walk in his life and make it unstable. And that the reason I often cries, a loner, and make a space with my friend. I being more comfortable alone.


Dan payahnya, gue gak ngerti kenapa dia bikin gue jadi kaya gini. It’s not first time sih gue nangis gegara cowok. Tapi dia, geez. Idk what should I do now. I just try to keep in sociality but I can’t!  This dumbass girl is becoming sho sensitive!

notes #2 (in our third 20)

on 05.10

# dari yang terdalam
kepada kamu,
bintangku yang enggan terang di malam hari

begitu misteriuskah-nya duniamu
hingga aku selalu merasa asing di dekatmu
padahal, jarak dan waktu telah kusebrangi dengan balutan asa yang menerabas ilalang perbukitan, tak putus-putus. setiap kata, senyum, tawa dan kecup sederhana, selalu kuukir tulus di setiap lajunya.

seberapa lama kah nya kau bisa kudekap seutuhnya
biar keasingan itu sirna, tiada.

dan kau bisa mencatat namaku dalam duniamu

menyemai dan merenda kasih kembali
untuk mendulang cinta di tepian hati yang meradang.
merenggang asa diayun luka dan kefanaan
biarkan saja, pasrahkan pada suratan takdir
tak pernah ada kata salah
untuk mencintai apalagi dicintai]
lepaskan saja di lautan lepas dan awang langit
yang membentangi alam maya kita
biarkan ia menyelami maknanya sendiri
cinta tulus tahu kemana ia akan membawa
dan melabuhkan mahkota hatinya

meretas jejak di ambang mimpi yang hampir berakhir
mendayung kembara hatidalam pusara air kasihmu.
semalam menatap ayu wajahmu di di balik gerimis yang setia membasahi jalan
merasakan getar itu berkobar lagi perlahan lahan

mengapa tak kuasa kubunuh getar itu
biar aku terbebas dari pesona auramu
yang mengepung di segala ruang hati.
disetiap kedip mata kutemui bayangan menjelma nyata.

di setiap desah sepi, kupintal wajahmu dalam dekapan mesra
begitu erat hingga tak ingin ku melepaskannya
di setiap doa aku mengiba untukmu.

datanglah menjelang....,
pintumu kau buka untukku
lambaian putih tapak tanganmu, mengikat langkahku diam menembus bumi.
luluh dalam cintamu, satu.
aku terperangkap di anganku.

notes #1

on 04.42

kepada kamu,
matahariku yang bersinar dibalik culumus.

jika cinta itu luka, lukai aku lebih dalam lagi
jika cinta itu luka, teruskanlah menancapkan rindu di dadaku sampai tak kenal lagi kata berhenti

luka adalah salah satu cara menguji,
seberapa kuat kita bertahan menuju kebersamaan
yang sesungguhnya
yang lebih berarti

cinta itu luka, memang, luka yang membahagiakan.
mencintaimu adalah awalan, awalan yang salah dan entah pengakhiran
yang mengajariku kesabaran dan ketabahan menunggu.
cinta itu luka karena mengajarkanku bagaimana menunggu dan menangis dengan benar.

jika memang cinta itu luka, mari kita menitikkan air mata bersama, dan tersenyum bersama di titik pertemuan nanti. titik yang masih sungguh kelabu untuk teraba.
jika cinta itu luka, masihkah kita sanggup bertemu pada akhirnya di kebersamaan?
masihkah aku bisa berharap?

aku menulisnya
cony-mu.

UNO

on 22.54

Janji kita, siapa pun yang kalah dalam permainan ini, ia harus mencium sang pemenang di tempat yang diinginkan sesuka hatinya. Setelah menimbang sejenak, bibirku melengkungkan senyum.

"Oke, Deal!" kataku kepadamu dari ujung ranjang.

Aku mengambil tumpukan kartu yang berserak di tengah kita, memulai gerakan mengocok kartu, lalu membaginya sama rata sesuai aturan konvensional yang berlaku di seluruh dunia: tujuh kartu untukmu dan tujuh kartu untukku.

Aku mengangkat kartu-kartu yang menjadi bagianku lalu membariskannya di antara jari-jemariku sebelum kulihat semua isinya. Kau menaikkan salah satu sudut bibirmu ke atas setelah melihat kartu-kartu milikmu sendiri berjejer di antara jari-jarimu, senyum nakal yang selalu kaubuat jika berhasil membuatku berteriak mengaduh manja terhadapmu. Dasar nakal! Umpatku dalam hati.

"Kartunya bagus, makasih kocokannya, ya!?" katamu sambil menganggukkan kepalamu sekali ke arahku, "Punya kamu bagus, nggak?"

Aku mengecutkan bibirku sambil menggeleng. Kau tertawa cekikan setelahnya.
Kau mengambil satu buah kartu di tengah-tengah kita sebagai kartu penunjuk, kartu paling atas yang kau ambil. Kartunya bernomor 6 warna kuning. Kemudian kau meletakkan kartu berwarna kuning bergambar sebuah lingkaran dengan garis miring di tengahnya. Lambang stop. Aku mengangkat bahu, "Jalan lagi," kataku.

Kau tersenyum semakin nakal setelah melihatku mulai tidak senang pada permainan ini. Hei, ini masih awal dan kau mulai menyebalkan! Teriakku dalam hati.

"Oh iya, pasti, dong!" katamu sambil menjatuhkan kartu berwarna kuning dan bergambar dua buah panah yang saling menunjuk. Lambang reverse. Putar balik.

Aku menggigit bibirku, menyipitkan mata, dan melihat wajahmu yang tersenyum lebih dari sekadar nakal. Aku menggelengkan kepalaku sekali. Permainan ini mulai menguji kesabaranku. Tapi, bukannya aku harus senang karena siapa yang kalah harus mencium yang menang. Bermain cinta setelah bermain kartu? Hmm... lakukan!

"Jalan... lagi..." kataku pelan-pelan.

Kau tidak bersuara. Kau menjatuhkan sebuah kartu berwarna hitam dengan mantap ke atas tiga lembar kartu yang berserakan di tengah kita. Kartu berwarna hitam dengan tanda +4 di pinggir kanannya. Aku hanya termangu lalu melihat wajahnya. Aku mengangkat kedua alisku padamu.

"Ya ambil, lah..." katamu sambil menganggukkan kepala dengan wajah menyebalkan.

Aku menggeleng berkali-kali lalu mengambil empat lembar kartu sambil mendenguskan napas. Tahukah kau bahwa permainan ini mulai menyebalkan? Menyebalkan yang menyenangkan karena ada kau sebagai lawanku di sini. Menyenangkan karena dengan adanya kau di sini aku tidak lagi punya alasan untuk merasa kesepian. Ini menyebalkan yang paling menyenangkan! Kau harus tahu itu, Sayang. 

Kartumu tinggal tersisa empat, sedangkan kartuku beranak pinak menjadi sebelas lembar yang kini berjejer rapi di jari-jemariku.

*** 

"Uno games!" teriakmu ketika kartumu telah habis dari genggaman, sedangkan aku, kartuku masih lengkap: sebelas lembar dalam genggaman. Bahkan kau tidak mengizinkanku untuk mengurangi satu lembar kartu pun dari tanganku.

Bermain UNO berarti bermain dengan kesempatan, katamu. Jika ingin menang dalam permainan ini, kita harus pintar-pintar menggunakan kesempatan, katamu lagi. Sekarang aku jadi mengerti, bagaimana aku bisa memenangkan permainan ini jika kau tidak memberikan padaku satu kali saja kesempatan.

Tapi tidak apa-apa, kupikir selagi hukumannya adalah menciummu, tidak apa-apa aku tidak mempunyai kesempatan untuk mengalahkanmu dalam permainan ini. Toh, aku masih memiliki kesempatan untuk menciummu, untuk mencintaimu. Aku membuang sebelas kartuku di tengah-tengah kita, lalu aku tersenyum sambil merangkak menuju tubuhmu. Kau tersenyum lebih nakal dari sebelumnya dan itu membuatku semakin cepat ingin menciummu. Lalu aku berhasil mencapai keningmu.

Aku berhenti bergerak ketika bibirku berada di puncak kepalamu. Rasanya dingin, sepi, getir. Lalu badanku bergetar, kepalamu mulai basah dengan air mata yang jatuh dari mataku. Kau kaku, lalu pelan. Menghilang. Aku mencoba memelukmu, tapi kau tidak ada lagi. Yang tersisa hanya serakan kartu-kartu di depanku. Badanku semakin bergetar, tangisku mulai meriak sementara kau benar-benar tidak ada lagi di depanku. Kuacak tumpukan kartu dengan kedua kakiku sehingga beberapa lembarnya terkoyak. Tubuhmu benar-benar lenyap dari pandanganku dan luka hatiku semakin menganga. Malam mulai beranjak tua tapi aku masih duduk di tepian ranjang sambil menangis.

Sayang, bahkan kau tidak memberikan kesempatan padaku bahwa kaulah satu-satunya. Lebih lagi, kau tidak memberiku kesempatan bahwa aku ada. Bahkan untuk menunjukkan padamu bahwa aku mampu menjadi yang terbaik. Untuk mencintaimu.
Lagi-lagi aku bermain UNO sendirian. Bersama bayanganmu. Dan juga tembok di depanku. Ibuku hanya mampu melihat dari depan kamar rumah sakit yang kini kutempati. Aku tidak mengerti mengapa beliau selalu menangis ketika melihatku menangis. Lebih lagi, aku tidak tahu kenapa aku ditempatkan dalam kamar isolasi ini.