27/05

on 06.00

i figure out how to stop loving someone you're not supposed to love anymore. i know it sounds impossible but trust me, we've done it before. i told my first love that i'd love him forever, but i don't anymore. he has spot in my heart- just like my cat and my best friend, and a teacher that can change my life -but I don't love him anymore, because that was a different person who was with him and i'm not her anymore. and one day, we'll no longer love the people that we love now, we just wait to ourselves to change again. and we try to speed it up, by starting new hobbies, getting haircuts, moving, learning a new language. anything. because the sad truth is we know we need to shed part of ourselves to fall out of love. and that sucks but it necessary.

Jika ada

on 20.31

Adakah sosok yang menunggumu melebihi ketabahanku?
Jika ada, datanglah padanya.
Jika tidak, kembalilah.

Mimpi

on 03.44

Kita lahir sendiri, mati pun sendiri.
Tidak ada namanya sehidup semati.
Mimpi tertinggiku adalah menjadi teman terbaikmu.
Di beberapa masa dalam rentang waktumu.
Sampai masa kita sama sama tak bersisa.

Tapi itu mimpi tertinggiku. Mimpi.
Yang lebih sarat akan makna 'angan'.

Tak terbendung

on 19.46

Dalam bahasa hiperbolisme, rinduku menyeruak.  Terlalu penuh, terlalu banyak hingga membuatku sesak. Hingga membuatku tak bisa banyak memilih kata. Hingga semuanya terasa menggebu gebu inginkan temu.

Bahagiamu kala kau tertawa denganku, sayang. Kutahu itu. Hati tak akan bertahan dalam kesepian. Tanpa sengaja ku tawarkan rasa hangat itu. Ku rangkulkan ke lehermu. Dan kau mulai terlena. Dan aku makin menyukainya. Pada akhirnya aku yang harus pergi. Tak pernah ada niat untuk menjadi penengah. Untuk menjadi pilihan kedua. Untuk membuat hatimu bercabang. Untuk meminta genggaman tanganmu dibagi kepadaku.

Namun kala aku pergi, kala aku berharap untuk tak kembali, kudengar kau layu, sayang. Tak lagi bergairah. Begitu dingin, begitu asing, begitu angkuh. Apa kau mulai dilenakan olehku sayang? Apa sang kekasih tak pernah mengisi sepi sepi harimu lagi sehingga hampir semuanya terkikiskan olehku?

Aku seperti pendosa menginginkanmu. Seperti pendosa, yang menginginkan pelukanmu setiap hari. Aku tak berhak untuk saat ini sayang. Walau kita tahu, kedua dari kita inginkan bersama. Bahkan untuk mengakui cinta kepadamu, aku terlalu takut akan karma.

Jadi kutuliskan dengan tulus, bahwa aku mencintaimu. Dan jika ku kembali, kurangkulkan hangat yang pernah kubawa pergi. Dan kupinta genggaman yang coba kulupakan, nanti, lagi.

Aku berharap semesta akan merestui kita untuk bahagia.

Apa salah?

on 05.33

Awalnya aku masih memilihmu meskipun hatimu bercabang dua, atau mungkin, tiga. Aku entah berada di nomor urut berapa.

Akhirnya, awal yang kupilih tak merunut jalan hati. Logika mencoba untuk mempertahankmu, tapi ada daya hati punya kuasa sendiri.

Aku memaafkanmu, semampunya ingin mempertahankmu. Tapi, ternyata, senyuman, genggaman, dan kecupan manja itu tak hanya aku yang memilikinya. Ada dia, Orang yang juga memilikimu. Entah untuk siapa hatimu, sebenarnya.

Jika memang cinta tak bisa disalahkan, apa ini benar? Jika hati memilih dengan tepat, apa ini akurat?  Jangan lagi percaya kata yang membenarkan cinta, karena aku berkali dibutakan dan tak pernah singgah di tempat yang benar.

Teruntuk, Senja.