i know no one will read my fanfict and a short stories here. my poetry and some my letter for "unknown person". but, idk why i can get my 7000+th visitor here. tbh, my stories was very worst and not too good for read ㅋㅋㅋ
i'mma here just wanna confess my thankful for a readers, esp for a all my groups's member whom i believe them always support me better for next time.
just for a sched (tbh i'm very busy now and for a few next week), i'll share a special things about Christmash. i'll post some short story lalala. but, Tq guys for your nicely support. ILY! ♡♥
regards
Herbst
author
Inikah sebuah pertanda? Pertama kali tatapku yang
bergulir nyata pada beningnya matamu, telah memasung
bahagiaku tanpa ampun. Tak peduli seberapa lemah getar
itu menyisir kalam batinku. Aku hanya tahu, ada rindu
yang kujaga untukmu.
sampai detik ini gersang dambaku merajuk senyap
di tempias lugu sapamu. Terpedar mencipta bintang
yang membiaskan terang pada teduh dua bola matamu.
Tiba-tiba, rinduku begitu telak menusuk kesendirianku.
Membawa anganku bergerak membingkai wajahmu
seketika. Detik ini, tak adayang kuinginkan selain
menatap indah derai tawamu.
Mestinya tak kubenamkan segala damba padamu.
Tapi apa daya, perjumpaan perjumpaan sesaat yang menyekat
Sapaku terkurung diruang hatimu, telah menggiring
mataku luluh daram rindu. Tiba-tiba menjelma nyata,
memaksaku takluk dalam cinta yang menyulut bahagia baru
biarpun sepi tak usai dan terus menyergap sadarku
dari keterasingan. Tapi setidaknya, aku mulai sadar....
rinduku pun juga tak usai. Merapal namamu dari jerit
ketakutanku. Menyesatkan cintaku yang tak surut
memamah usai.mencatut hatimumenjadi satu-satunya
yang terindah untukku. Apakah ini nyata atau....
semu? apakah ini janji atau sekedar ilusi? Hanya
palung batinmu yang mengurai. Aku hanya
mengibarkan berdera tanda, selebihnya dirimulah yang
mesti mengulur benang talinya, untukku...
Dan biarkan ini menjadi cinta. Jika ini adalah segenap
rasaku yang berbicara. Biarkan ini menjadi bahagia, jika ini
adalah jalannya. Biarkan bahagia itu yang mengurai
sendiri segala warasku menjadi ada. Yang pasti,
bahagiaku ini ada untuk menjadi nyata, bukan sia sia....
Detik yang berlalu hampa
Hari yang berlalu bisu
Menghadirkan gerah disetiap napasku
Terengah dibuai nafas getir
Tergopoh dibaui kecewa lama
Tinggallah duka yang bertahta lama
Menyisakan perih diatas luka yang belum mengering
Perih diatas cintamu terlanjur menyudutkanku
di batas dunia yang belum begitu asing
Dan kau.....
Terpelanting dari sampingku begitu saja,
Tanpa sisa senyum yang menggugah
rindu.
(cr: Moammar Emka at "Cinta Itu Kamu")
Selasa, 28 Januari 2014
Cast:
-
Im
Eunyoung―Park
Channie
-
Moon Jongup
-
Kim Himchan & Bang Yongguk
-
Jung Soo Jung
-
Kim Yura
-
―others―
Genre: Unknown
Rated: (( just for
precious reader.))
Length: unknown
Author: Herbst.
― Life is either a daring adventure or
nothing at all.
Kawasan Gangnam masih diselimuti
salju pada saat itu. Dua orang gadis masih berada di dalam butik skin care dalam balutan baju branded mereka. Para pegawai memberikan
pelayanan terbaik pada kedua gadis itu―sekalipun salah satu diantara mereka
sama sekali tidak tertarik dengan botol botol krim wajah dan parfum. Ia hanya
memainkan ponselnya, bahkan tidak begitu peduli pada tatapan bahkan para
pramuniaga disana. Barang belanjaannya masih berserakan disekitar kakinya.
“Kau sungguh tak inginkan ini? Krim
krim ini sedang murah. Ada diskon khusus buatku, mengingat aku adalah pelanggan
disini. Jika kau mau, aku akan berikan diskon khususku itu untukmu..”
Salah satu dari kedua gadis disana.
Mereka lah satu satunya pengunjung butik skin
care ini. Gadis yang masih memainkan ponselnya itu hanya menoleh ke arah
sumber suara, sebentar, lalu kembali ke ponselnya lagi. “kan sudah kubilang,
aku tidak suka menggunakan krim macam macam seperti itu..”
“Channie-ah, kau perempuan~!”
“Lalu?” gadis yang baru saja
dipanggil Channie itu hanya tersenyum, kembali menyimpan ponselnya ke dalam
saku coat merah miliknya. Di tangan
temannya itu sudah ada beberapa tas kertas yang bisa ditebak isinya adalah
beberapa kosmetik dengan harga diatas 5$ USD. “Sudah malam, Soo Jung-ah, kau
jangan merayuku untuk membeli produk ini, oke? Kulitku tidak akan cocok.” Tentu saja ada makna tersendiri dari kata
Channie barusan. Tapi Soo Jung terlalu masa bodoh dengan itu. Ia akhirnya
menyerah kepada keputusan temannya itu dan beranjak pergi. Tapi sesampainya
dipintu keluar dari butik itu, ponsel Channie berdering.
“yeoboseo?”
ujarnya. Lalu beberapa detik kemudian, wajah Channie menegang, namun langkahnya
masih santai. Intuisinya bekerja dua kali lebih cepat. Orang yang berada di
ujung sana masih berbicara―memberikan beberapa nasihat untuk Channie. Channie
kemudian memejamkan matanya sejenak, berusaha mencerna kata kata sang penelpon.
Soojung yang sedari tadi berjalan di depan Channie menghentikan langkahnya dan
sedikit khawatir melihat wajah Channie yang tiba tiba memucat.
“aku tidak akan bisa mencerna
ucapanmu. Demi Tuhan, aku sangat terkejut sekarang.”
“.................”
“Aku mengerti. Hubungi saja aku lagi
besok.” Channie kembali mengantongi ponselnya sebelum melanjutkan menyusul
Soojung yang sudah masuk ke dalam mobilnya.
“Kau tak apa?” tanya Soojung
khawatir. Channie mencoba tersenyum.
“Baik, hanya sedikit pusing. Itulah
guna aku menyuruhmu pulang dari tadi. Kau saja yang menyetir ya.”
***
“Kau di daerah Gangnam? Aku melihatmu. Juga
seseorang yang mengikutimu. Apa kau menggunakan coat berwarna merah?”
“.............”
“Jangan tunjukan ekspresi
terkejutmu. Jaga sikap. Jangan buat mereka curiga. Aku akan menyuruh Yongguk
Hyung mengirim muridnya untuk berjaga radius 1KM dari rumahmu. Jangan menginap
dirumah Soojung.”
Terdengar helaan nafas, “aku tidak
bisa mencerna ucapanmu. Demi Tuhan aku sangat terkejut sekarang.”
“Besok kita bisa bertemu? Sebenarnya
belum saatnya aku memberitahukanmu hal ini. Kita bicarakan besok saja.”
“Aku mengerti,” terdengar helaan
nafas pelan. “hubungi saja aku lagi besok” Kim Himchan menutup ponselnya. Namun
ia mengurungkan niatnya dan kembali mengambil ponselnya. Ia menghubungi nomor
Yongguk disana.
“Yongguk-ssi, kirim tiga anak
buahmu. Pion dua sedang diawasi. Pihak pion satu bergerak diam diam.”
***
Himchan
tidak menghubungi Channie tepat seperti janjinya, namun ia langsung menuju
rumah Channie dan menghampiri gadis itu tepat ketika gadis itu sedang menyikat
giginya. “Jika menghubungimu, akan terlalu memakan waktu. Biar kujelaskan di
ruang tamu. Cepatlah keluar.”
Channie
mendengus. Tidak menjawab kata kata Himchan barusan dari lur kamarnya dan meneruskan
menyikat giginya. Sekalipun Himchan baik, tapi terkadang Himchan tidak sopan
dan suka seenaknya. Himchan juga tipikal orang yang susah diajak bercanda.
Beberapa
saat kemudian, ia sudah ada di lantai bawah, bersama Himchan. Himchan
menggunakan pakaian formal, yaitu setelan jas dan celana panjang. Sedangkan
dirinya hanya menggunakan kaus lusuh dan celana pendek yang hanya menutupi
separup pahanya.
“Target
selanjutnya masih unknown, namun tugas kali ini tidak begitu sulit. Kau hanya
dipekerjakan untuk menjaga anak wakil presiden kita, Moon Jongup. Kenapa aku
memperkerjakanmu, karena kau seumuran dengannya. Dia kelahiran 95 dan kau 96,
hanya selisih setahun, dan aku rasa itu tidak terlalu formal.”
“Kau
memperkerjakanku dengan target unknown?
Apa kau bercanda? Dan asal kau tahu, Jongup itu adalah, er, Badboy.”
Himchan
tertawa. “Pihak intelegent negara yang akan mengusut teror yang terjadi
belakangan ini di istana. Jangan bilang kau belum tahu kasus teror yang terjadi
di istana?”
Channie
hanya mengangguk. Ia masih sibuk mempelajari file tentang orang yang harus
dikawalnya. Dalam catatan itu, tampak sekali Jongup merupakan anak yang cukup
susah diatur. Channie menghembuskan nafasnya berat. Bukan karena targetnya yang
bosa saja para teroris atau ia grogi akan menjaga salah satu keluarga Istana.
Namun Jongup terlihat memiliki sifat yang paling tidak disukai oleh
Channie―keras kepala. Channie menghembuskan nafasnya berat untuk kesekian kali.
Hanya satu hal yang tidak ingin terjadi―dan terlihat sangat sukar. Ia takut ia
tidak bisa akur dengan anak wakil presiden itu. Dan dampaknya pasti akan sangat
rumit.
“Dan
satu hal yang mengejutkan, untuk Soojung, hari ini ia sudah dibawa ke
Singapura, ia harus di selamatkan juga. Setelah aku sadap, aku mengetahui
markas mereka. Dan kau sudah pasti tahu
resikonya kan? Bagaimana? Kau siap?”
“Tidak
ada pilihan lain, kan?” Channie menatap lekat lekat foto Jongup. “apa dia
termasuk anak liar?” Himchan hanya tersenyum. Channie mengakui, senyuman
Himchan terkadang manis walaupun terkadang menyeramkan.
“Dia
memang punya segudang catatan buruk, namun tidak semenakutkan itu.
Percayalah..”
***
“Kalian
yakin perempuan ini bisa menjagaku? Usianya bahkan jauh lebih muda daripada
aku.”
Demi
Tuhan, Channie merasa dilecehkan. Ia memutar bola matanya dan menggulung
rambutnya kebelakang. Kalau diijinkan, ia bisa saja menghajar laki-laki itu
sekarang juga. Sebisa mungkin ia menahan
emosinya, setidaknya selama Himchan dan Yongguk tidak ada disisinya saat ini.
“Jika
dia tidak bisa menjaga anda dengan baik, saya yang akan bertanggung jawab.”
Channie menoleh dan sedikit terkejut mendengar Himchan berkata demikian.
Channie hanya menatap ke arah Jongup dingin, Jongup pun membalas tatapannya dan
sepertinya tidak berpengaruh terhadap Channie.
Disisi
lain, Jongup memperhatikan perempuan yang menatapnya tajam. Perempuan yang
terkesan lebih keras sekalipun
umurnya setahun lebih muda darinya. Ia akhirnya mengiyakan saja ucapan Himchan
yang berusaha meyakinkan Jongup agar bisa mempercayai kemampuan Channie.
“Baiklah,”
Jongup berdiri, ia menghampiri Channie yang berdiri tak jauh darinya sambil
melihatnya ogah-ogahan. “Siapa namamu?”
“sebut
saja Im Eunyoung..”
Minggu, 20 Oktober 2013
Lagi, tentang kita
Ini bukan yang pertama, duduk sendirian dan memperhatikan
beberapa tulisan berlalu lalang. Setiap abjad yang tersusun dalam kata,
terangkai menjadi kalimat. Dan entah mengapa, sosokmu selalu berada disana.
Berdiam dalam tulisan yang sebenarnya enggan aku baca dan kudefinisikan lagi.
Ini bukan yang baru bagiku. Duduk berjam jam, tanpa
merasakan hangatnya perhatianmu melalui pesan singkat. Kekosongan dan kehampaan
sudah berganti ganti wajah sejak tadi. Namun aku tetap menunduk, mencoba tak
memperhatikan keadaan. Karena jika aku terlalu terbawa emosi, aku bisa mati
salah sendiri.
Tentu saja, kamu tak merasakan apa yang aku rasakan. Juga
tak memiliki rindu yang tersimpan rapat rapat. Aku sengaja menyembunyikan
perasaan itu, agar kita tak lagi saling mengganggu. Bukankah dengan berjauhan
seperti ini, semuanya terasa jadi lebih berarti? Seakan akan, aku tak pernah
peduli. Seakan akan, aku tak mau tahu. Seakan akan, aku tak miliki rasa
perhatian.
Bagiku, sudah cukup seperti ini. Cukup ‘aku’ dan ‘kamu’,
tanpa ‘kita’. Kali ini aku tidak akan
menjelaskan tentang kesepian, atau bercerita banyak hal yang mungkin saja sulit
kau pahami. Karena aku sangat tahu, kamu sangat sulit diajak basa-basi. Haha,
apalagi jika berbicara tentang cinta mati.
Aku yakin, kamu akan menutup telinga dan membesarkan volume
lagu lagu yang bernyanyi, bahkan tanpa lirik yang tak bisa kau terjemahkan
sendiri. Aku tidak akan tega membebanimu dengan cerita cerita eksel dengan
ansambel yang selalu kau benci. Seperti dulu, saat aku bicara cinta. Dan kamu
malah tertawa. Seperti saat kita masih bersama, aku berkata rindu, kamu
menulikan telinga.
Hanya cerita sederhana yang mungkin tak ingin kau dengar
sebagai pengantar tidurmu. Kamu tak suka jika kuceritakan tentang air mata,
bukan? Bagaimana jika kualihkan air mata menjadi senyum pura pura? Tentu saja,
kau tak akan bisa melihatnya. Sejauh yang aku tahu, kamu tidak peka. Dan
mungkin saja, sifat burukmu masih sama, walaupun kita sudah lama saling memisah
dan tak bertatap muka.
Entah mengapa, akhir akhir ini sepi sekali. Aku seperti
berbisik dan mendengarkan suaraku sendiri. Namun, aku masih saja heran, dalam
gelap malam ternyata ada banyak cerita yang sudah kulewatkan. Ini.....tentang
kita.
Ah, sekarang kamu pasti sedang buang muka, tak ingin melihat
lukisan cacat dimasa lampau. Akupun juga begitu. Tak ingin membuka luka lama.
Tak ingin menyentuh bayang bayangmu yang semakin samar samar. Tak ingin
mereka-reka senyum dan ramahmu, yang tak seindah dulu.
Kalau boleh jujur, kita dulu begitu akrab, di otak, mata dan
pikiranku. Seperti ada sesuatu yang terjadi, sangat dekat, sangat mendalam,
sampai sampai tak mampu terhapus begitu saja oleh waktu dan jarak. Sudah
kesekian kali, aku menyebut nyebut namamu dalam sepi. Dan membiarkan kenangan
terbang menggelitik geli dimanja angin. Tertiup jauh, namun mungkin akan
kembali.
Wajah baruku bisa kau lihat kembali. Lebih hangat dan
semangat daripada disaat awal kau kusadari mulai menjauh dariku. Berbicara
tentang perpisahan.....benarkah kita telah berpisah? Benarkah kita sudah saling
melupakan? Jika memang ada kata saling, tapi mengapa hatiku masih ingin
mengikatmu? Dan mengapa saat ini aku tak benar benar ingin menjauh. Kadang
jarak tak pernah menjadi alasan kita tak bisa saling berbagi, kecuali aku terlalu
hina untuk kau ingat pernah ada dihari hari menyenangkanmu lagi.
Dalam sebuah ketidak jelasan, aku dan kamu sepertii
menjalani sesuatu yang..... sesuatu yang entah disebut apa. Tapi kupikir kau
benar benar tak harapkan aku hadir lagi dihidupmu seperti dulu walaupun ada
rasa nyaman yang kurasakan ketika kita berdekatan. Seperti ada yang hilang lalu
kembali menyatu, walaupun aku yakin itu tak pernah bertahan lama..
Terlalu tololkah jika kusebut belahan jiwa? Keterikatan aku
dan kamu tak pernah ada dalam status. Tapi...jiwaku, nafasku, kerinduanku masih
memiliki detak yang sama setiap harinya, walaupun kekecewaan itu muncul ketika
kuketahui itu semua tak akan berbalas. ‘aku’ tak akan kamu ubah menjadi ‘kita’.
‘aku’ hanya akan jadi ‘aku’ yang terlalu lemah untuk mencabut kamu dari
kenangan kita yang merubah hidupku.
Tak perlu dibawa serius, ini hanya rangkaian beberapa
paragraf bodoh yang kubuat untuk menemani aku dari kesepian dan kesunyian yang
sayup sayup memanggil. Sulit untuk dipungkiri, sejak aku dan kamu telah sendiri
sendiri, sejak aku dan kamu memilih jalan kita sendiri, aku malah sering main
dengan sepi.
J
