Street Style 2 : Speaking of Black Friday....

on 22.56


I've noticed that I have tried many times in the past to incorporate a colorful spin on my style. However, lately I have come to terms with the fact that I will never look or feel comfortable in loud colors and bold prints. Naturally, there will be a few exceptions. But nothing beats wearing black....or the perfect shade of blue jeans and a white t-shirt. How appropriate for Black Friday...
 I'm a minimalist at heart and it's time to stop fighting that. California's laid back vibes have definitely influenced my style. I love mixing minimalism with beachy pieces; it makes me feel like I'm staying true to my roots. But I feel the most comfortable in basics. Moral of the story: The only way I can amp up my basic pieces are with some awesome accessories like this silk neck scarf.
 I have the biggest crush on it and I want to wear it everyday!!!!

Street Style 1 : Love is mean and love hurts

on 22.47

it so super simply OOTD that you can make it for your casual activities.
Took full advantage of the American Apparel black friday sale and got a few leotards and cropped shirts. I’m definitely obsessed and kind of wishing I had bought more… next time!

I styled my striped one-piece with my jeans. This thing is ultimate cozy!perfectly cute and goth!
TUK creepers or so you can change it by black boot from Victoria Secret or maybe Christ Louboutin! a short-black-boots make your foots perfectly cool.
In this look…  stripped tee , old high wasted skinny jeans and black-boots!
nah Girls, too easy for make your style look perfectly, right?

yaa..Maybe

on 01.35

Hey.
You know. I’ve started to think—maybe we’re always gonna have that person.
That person that we have given a piece of our hearts, and never returns it back. The one that we thought would always be there at the first place. The one to whom you will sing a piece of a song at night, and they will sing a long the rest of it right. The one who reads the same book, watches the same movies, listens to the same music, drinks the same coffee, speaks the same languages, and sticks the pictures of the same people on the wall of their room. The one compatible, in the right amount of compatibility that, in one way or another, still keeping you excited about not knowing what they’re going to say or do. The one who, under several circumstances, reads your mind and is always right about it. The one who will understand your anger, and be there to listen to it. The one with whom you could spend hours, sitting, in long, comfortable silence.
The one, whom, at the same time, you can never have.
Because your borrowed time with them is over. Because your paths in life just do not cross anymore. Because they make a different choice, turn their back…, and then walk away.
The way he did to me before. And she did to you, and I find it hurting me even more.
And finally you will have to live on, and find a substitute. Which will never shape the lost, fit the whole hole, or fill the emptiness.
***
I’m so scared that I’ll find that one in you.
Because I think stories in my heart have started a new part. There is a line that stretches exactly the same way as the ones that you draw everyday. There are corners that begin to place themselves with all the things from the books you read. There are bells that chime as I wake up in the morning, and dance to all the songs that you sing. There is a hole inside of it everytime you leave.
It shapes exactly just the way you do.
At the same time, you seem too good to come true.
And I’m so scared—that I’m finally gonna have to lose you.
***

Kamu

on 01.34

Hai, tahu kamu, telah lama aku tidak seperti ini.
Telah lewat tahun panjang yang panas ketika aku merasakan hatiku sama angkuhnya dengan matahari. Hari-hari ketika aku benar-benar mengira panas kami bisa mencairkan es di kutub-kutub bumi, dan aku tetap tidak peduli. Aku merasa nyaman seperti itu. Diam tidak terganggu, dengan hujan yang tak sempat datang sebab awannya tak pernah lama bertahan. Terus berpendar setiap hari, berputar dalam orbit yang sama, dengan kesombongan tak terkira. Orang-orang menggantung hidup mereka pada nyala kami. Sebab itu yang mereka bisa.
Lalu kamu kembali.
November dengan titik-titik uap di langit-langitnya, dirimu itu. Awan berat yang tak kusangkakan arak hadirnya. Dinginmu menggigit tepi-tepi pagi, dan aku tidak suka.
Tak lama, hujanmu jatuh.
Aku sungguh tak terbiasa.
Lama kukurung diriku, mencari tahu kemana arah gerakmu. Gerimis-gerimis yang hadir serta-merta, lalu derak rinai yang tiba-tiba. Aku menutup jendela-jendela, mengunci pintu-pintu, terlalu takut kamu akhirnya mendapatiku. Tak tahu lagi bagaimana harus memperlihatkan diri.
Hingga suatu pagi.
Pikirku, ini waktuku bersinar lagi. Mengumpulkan kekuatan, melawan ketakutanku sendiri. Bilah-bilah pintu, jendela-jendelaku telah membeku. Kupulihkan pelan-pelan pertahanan diri, siapa tahu hatiku terlalu rapuh berada di luar itu.
Akhirnya kubiarkan mereka terbuka.
Dan dirimu berdiri di sana.
Kamu terlihat mempesona.***

Sunday, 16 03 2014

on 03.24


Sunday, 16 03 2014
Kala senja terbenam dibalik ujung-ujung cemara yang tinggi.

Ini terlihat seperti sebuah surat yang tidak pernah aku memberikannya padamu. Keberanianku belum cukup untuk memberikan kata kata manis padamu. Aku nanti bisa saja terlihat bodoh dimatamu, mengapa ”perempuan seperti aku” mampu menulis kalimat puitis seperti ini. Tapi percayalah, sesungguhnya aku menulis ini karena begitu banyak yang mampu kupelajari darimu. Setelah kata ”hi!” dan perkenalan singkat itu. Semuanya berubah. Tapi bodohnya, aku tidak pernah menyadarinya.

Dulu aku mempunyai boneka beruang, ukuranya bahkan lebih gemuk daripada aku, rambutnya gimbal dan kulitnya putih pucat. Ia mengenakan topi berwarna merah sehingga aku menyebutnya raksasa merah. Padahal dia sangat lucu. Sampai ketika umurku menginjak 14 tahun, kala itu aku masih ingusan dan duduk di bangku SMP. Mungkin tergolong dewasa, tapi aku masih saja sering berbicara sendiri dengan boneka itu. Aku menangis sambil memeluk boneka itu.

Mungkin banyak yang akan bilang aku childish, tapi aku tidak pernah peduli. Aku masih dekat dengan ‘raksasaku’ tersebut melebihi kedekatanku dengan kedua orangtuaku. Aku merasa, setidaknya aku tenang berada disamping boneka itu, sekalipun dia tidak pernah berbicara padaku.

Ditahun selanjutnya ketika usiaku masih 15 tahun, keluargaku pindah rumah. Maksudku, berpisah rumah. Mama harus kerja di Surabaya dan Ia kost di daerah perbatasan antara Surabaya dan Gresik. Aku di daerah Surabaya Barat tinggal bersama tanteku dan ayahku beserta adikku ada di desa. Hari-hari kulalui dengan keras, kesepian, dan tanpa semangat. Semuanya berubah sejak saat itu. Tidak ada tempat berbagi, tidak ada yang bisa kupeluk kala aku menangis.

Raksasaku? Dia harus dibuang. Ya, tidak ada yang mau menerima boneka gimbal itu. Boneka itu, kata Mama, tampak menyedihkan. Kulit pucat beserta ukurannya yang besar hanya akan memenuhi ruangan dan tidak berguna. Lagipula tante tidak akan mau menerimanya. Aku bisa apa? Aku hanya bisa diam. Terlalu lelah untuk menangis. Terlalu sesak untuk bernafas. Semuanya berlalu begitu saja dan aku tidak punya alasan kuat untuk menarik boneka itu kembali dari atas tong sampah.

Jika ingat peristiwa itu, aku sadar betapa lemahnya aku. Aku bahkan tidak bisa menyelamatkan hal hal yang aku sayang, orang orang yang aku sayang, dan tidak bisa sepenuhnya melawan takdir yang menyedihkan ini. Dan ingin sekali rasanya aku menulis kisahku sendiri, bahagia, berada disamping orang orang yang menyayangiku dan masih bisa memeluk ’raksasaku’ tersebut.

Dan mungkin semuanya kembali terjadi. Kala aku bertemu denganmu.

Kau bukanlah satu-satunya orang yang berharga dalam hidupku. Tapi orang-orang yang untukku berharga adalah orang-orang yang sangat mengenalku.  Mengenalmu saja tidak, tapi kau sudah ada dalam daftarnya. Juga serentetan nama nama asing yang tidak pernah kuketahui wajahnya.

Banyak hal yang aku bisa pelajari darimu. Setidaknya kau ajari aku lagi bagaimana cara tertawa dan mengenal hal hal yang menyenangkan. Tentang berbagi masalah dan mencari jalan keluarnya, dan tentang kedewasaan. Nyaman. Hanya kata itu yang bisa kubaca kala aku bersamamu. Beberapa perasaan bahagia pada saat itu masih belum kukenali.

Dan lagi, mendengar kenyataan buruk yang menimpamu kembali membuatku berpikir, mengapa hidup sangat membenciku untuk bahagia? Mengapa aku mungkin akan selalu ditakdirkan dengan yang namanya perpisahan. Tapi jika aku berpikir hidup itu tidak adil, aku tidak pernah merasakan kebahagiaan disela kenyataan pahit yang muncul.

Sialannya lagi, ditengah keadaanmu yang kala itu tidak memungkinkan, dengan bodohnya aku menjadikanmu pelampiaskan semua masalahku saat itu. Dan hebatnya, entah kenapa, kau kembali membuatku tertawa. Seolah, kau memberikan sebelah tanganmu untuk membantuku melawan semuanya. Seolah aku tak sendirian.

Dan lambat laun, aku menginginkan kedua tanganmu kumilikki. Ini bukan ambisi, aku bahkan belum bisa mengartikannya.

Diantara lantunan doa dan harapan yang tumbuh, kau adalah alasan aku untuk terus berdiri lagi. Kau mengajariku tentang malu, malu jika aku kalah menghadapi hidup. Menurutku, takdirku jauh lebih buruk, namun aku selalu paham, kau tak pernah memperlihatkan kondisi burukmu. Kau selalu terlihat seolah olah kau adalah orang yang kuat. Seolah olah kau adalah orang yang tidak merasa terbebani.

Padahal, aku mengerti, semuanya hanya tipuan.

Sempat aku berpikiran, akan jadi apa aku jika nantinya kau pergi? Apa aku hanya akan melihatnya pasrah dengan perasaan campur aduk ketika aku melihat ’raksasaku’ pergi, atau aku akan menangis seperti saat aku kehilangan nenekku? Nantinya, aku bisa saja lupa cara tertawa. Kuakui, aku bergantung padamu, and always feel nothing when you’re not here. I swear I just feel nothing.

I don’t know what I am talking about and tell everything here but, i just wanna you know, i know you well. Where I know? Because I always took at  you when you came. You might never see but….yah, I’m not really wanna you know about it. I thought I’m a shameful thing.

Dari sekian panjang lebar, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih /?

Terimakasih sudah membuat aku kembali tertawa, terimakasih sudah membuat aku kembali merasa spesial. Untuk kamu, dan semua teman teman mayaku. Terimakasih karena kalian selalu mendengarkan aku yang bawel dan terimakasih juga, karena membuat aku kembali semangat hidup.

Tuhan tidak pernah membiarkan makhluknya menerima cobaan tanpa memperlihatkan hikmah dibalik semuanya. I was felt it in my life and i trust about it.

xoxo

-