# dari yang terdalam
kepada kamu,
bintangku yang enggan terang di malam hari
begitu misteriuskah-nya duniamu
hingga aku selalu merasa asing di dekatmu
padahal, jarak dan waktu telah kusebrangi dengan balutan asa yang menerabas ilalang perbukitan, tak putus-putus. setiap kata, senyum, tawa dan kecup sederhana, selalu kuukir tulus di setiap lajunya.
seberapa lama kah nya kau bisa kudekap seutuhnya
biar keasingan itu sirna, tiada.
dan kau bisa mencatat namaku dalam duniamu
menyemai dan merenda kasih kembali
untuk mendulang cinta di tepian hati yang meradang.
merenggang asa diayun luka dan kefanaan
biarkan saja, pasrahkan pada suratan takdir
tak pernah ada kata salah
untuk mencintai apalagi dicintai]
lepaskan saja di lautan lepas dan awang langit
yang membentangi alam maya kita
biarkan ia menyelami maknanya sendiri
cinta tulus tahu kemana ia akan membawa
dan melabuhkan mahkota hatinya
meretas jejak di ambang mimpi yang hampir berakhir
mendayung kembara hatidalam pusara air kasihmu.
semalam menatap ayu wajahmu di di balik gerimis yang setia membasahi jalan
merasakan getar itu berkobar lagi perlahan lahan
mengapa tak kuasa kubunuh getar itu
biar aku terbebas dari pesona auramu
yang mengepung di segala ruang hati.
disetiap kedip mata kutemui bayangan menjelma nyata.
di setiap desah sepi, kupintal wajahmu dalam dekapan mesra
begitu erat hingga tak ingin ku melepaskannya
di setiap doa aku mengiba untukmu.
datanglah menjelang....,
pintumu kau buka untukku
lambaian putih tapak tanganmu, mengikat langkahku diam menembus bumi.
luluh dalam cintamu, satu.
aku terperangkap di anganku.
kepada kamu,
matahariku yang bersinar dibalik culumus.
jika cinta itu luka, lukai aku lebih dalam lagi
jika cinta itu luka, teruskanlah menancapkan rindu di dadaku sampai tak kenal lagi kata berhenti
luka adalah salah satu cara menguji,
seberapa kuat kita bertahan menuju kebersamaan
yang sesungguhnya
yang lebih berarti
cinta itu luka, memang, luka yang membahagiakan.
mencintaimu adalah awalan, awalan yang salah dan entah pengakhiran
yang mengajariku kesabaran dan ketabahan menunggu.
cinta itu luka karena mengajarkanku bagaimana menunggu dan menangis dengan benar.
jika memang cinta itu luka, mari kita menitikkan air mata bersama, dan tersenyum bersama di titik pertemuan nanti. titik yang masih sungguh kelabu untuk teraba.
jika cinta itu luka, masihkah kita sanggup bertemu pada akhirnya di kebersamaan?
masihkah aku bisa berharap?
aku menulisnya
cony-mu.
matahariku yang bersinar dibalik culumus.
jika cinta itu luka, lukai aku lebih dalam lagi
jika cinta itu luka, teruskanlah menancapkan rindu di dadaku sampai tak kenal lagi kata berhenti
luka adalah salah satu cara menguji,
seberapa kuat kita bertahan menuju kebersamaan
yang sesungguhnya
yang lebih berarti
cinta itu luka, memang, luka yang membahagiakan.
mencintaimu adalah awalan, awalan yang salah dan entah pengakhiran
yang mengajariku kesabaran dan ketabahan menunggu.
cinta itu luka karena mengajarkanku bagaimana menunggu dan menangis dengan benar.
jika memang cinta itu luka, mari kita menitikkan air mata bersama, dan tersenyum bersama di titik pertemuan nanti. titik yang masih sungguh kelabu untuk teraba.
jika cinta itu luka, masihkah kita sanggup bertemu pada akhirnya di kebersamaan?
masihkah aku bisa berharap?
aku menulisnya
cony-mu.
Minggu, 05 April 2015
Janji kita, siapa pun yang kalah dalam permainan ini, ia harus mencium sang pemenang di tempat yang diinginkan sesuka hatinya. Setelah menimbang sejenak, bibirku melengkungkan senyum.
"Oke, Deal!" kataku kepadamu dari ujung ranjang.
Aku mengambil tumpukan kartu yang berserak di tengah kita, memulai gerakan mengocok kartu, lalu membaginya sama rata sesuai aturan konvensional yang berlaku di seluruh dunia: tujuh kartu untukmu dan tujuh kartu untukku.
Aku mengangkat kartu-kartu yang menjadi bagianku lalu membariskannya di antara jari-jemariku sebelum kulihat semua isinya. Kau menaikkan salah satu sudut bibirmu ke atas setelah melihat kartu-kartu milikmu sendiri berjejer di antara jari-jarimu, senyum nakal yang selalu kaubuat jika berhasil membuatku berteriak mengaduh manja terhadapmu. Dasar nakal! Umpatku dalam hati.
"Kartunya bagus, makasih kocokannya, ya!?" katamu sambil menganggukkan kepalamu sekali ke arahku, "Punya kamu bagus, nggak?"
Aku mengecutkan bibirku sambil menggeleng. Kau tertawa cekikan setelahnya.
Kau mengambil satu buah kartu di tengah-tengah kita sebagai kartu penunjuk, kartu paling atas yang kau ambil. Kartunya bernomor 6 warna kuning. Kemudian kau meletakkan kartu berwarna kuning bergambar sebuah lingkaran dengan garis miring di tengahnya. Lambang stop. Aku mengangkat bahu, "Jalan lagi," kataku.
Kau tersenyum semakin nakal setelah melihatku mulai tidak senang pada permainan ini. Hei, ini masih awal dan kau mulai menyebalkan! Teriakku dalam hati.
"Oh iya, pasti, dong!" katamu sambil menjatuhkan kartu berwarna kuning dan bergambar dua buah panah yang saling menunjuk. Lambang reverse. Putar balik.
Aku menggigit bibirku, menyipitkan mata, dan melihat wajahmu yang tersenyum lebih dari sekadar nakal. Aku menggelengkan kepalaku sekali. Permainan ini mulai menguji kesabaranku. Tapi, bukannya aku harus senang karena siapa yang kalah harus mencium yang menang. Bermain cinta setelah bermain kartu? Hmm... lakukan!
"Jalan... lagi..." kataku pelan-pelan.
Kau tidak bersuara. Kau menjatuhkan sebuah kartu berwarna hitam dengan mantap ke atas tiga lembar kartu yang berserakan di tengah kita. Kartu berwarna hitam dengan tanda +4 di pinggir kanannya. Aku hanya termangu lalu melihat wajahnya. Aku mengangkat kedua alisku padamu.
"Ya ambil, lah..." katamu sambil menganggukkan kepala dengan wajah menyebalkan.
Aku menggeleng berkali-kali lalu mengambil empat lembar kartu sambil mendenguskan napas. Tahukah kau bahwa permainan ini mulai menyebalkan? Menyebalkan yang menyenangkan karena ada kau sebagai lawanku di sini. Menyenangkan karena dengan adanya kau di sini aku tidak lagi punya alasan untuk merasa kesepian. Ini menyebalkan yang paling menyenangkan! Kau harus tahu itu, Sayang.
Kartumu tinggal tersisa empat, sedangkan kartuku beranak pinak menjadi sebelas lembar yang kini berjejer rapi di jari-jemariku.
***
"Uno games!" teriakmu ketika kartumu telah habis dari genggaman, sedangkan aku, kartuku masih lengkap: sebelas lembar dalam genggaman. Bahkan kau tidak mengizinkanku untuk mengurangi satu lembar kartu pun dari tanganku.
Bermain UNO berarti bermain dengan kesempatan, katamu. Jika ingin menang dalam permainan ini, kita harus pintar-pintar menggunakan kesempatan, katamu lagi. Sekarang aku jadi mengerti, bagaimana aku bisa memenangkan permainan ini jika kau tidak memberikan padaku satu kali saja kesempatan.
Tapi tidak apa-apa, kupikir selagi hukumannya adalah menciummu, tidak apa-apa aku tidak mempunyai kesempatan untuk mengalahkanmu dalam permainan ini. Toh, aku masih memiliki kesempatan untuk menciummu, untuk mencintaimu. Aku membuang sebelas kartuku di tengah-tengah kita, lalu aku tersenyum sambil merangkak menuju tubuhmu. Kau tersenyum lebih nakal dari sebelumnya dan itu membuatku semakin cepat ingin menciummu. Lalu aku berhasil mencapai keningmu.
Aku berhenti bergerak ketika bibirku berada di puncak kepalamu. Rasanya dingin, sepi, getir. Lalu badanku bergetar, kepalamu mulai basah dengan air mata yang jatuh dari mataku. Kau kaku, lalu pelan. Menghilang. Aku mencoba memelukmu, tapi kau tidak ada lagi. Yang tersisa hanya serakan kartu-kartu di depanku. Badanku semakin bergetar, tangisku mulai meriak sementara kau benar-benar tidak ada lagi di depanku. Kuacak tumpukan kartu dengan kedua kakiku sehingga beberapa lembarnya terkoyak. Tubuhmu benar-benar lenyap dari pandanganku dan luka hatiku semakin menganga. Malam mulai beranjak tua tapi aku masih duduk di tepian ranjang sambil menangis.
Sayang, bahkan kau tidak memberikan kesempatan padaku bahwa kaulah satu-satunya. Lebih lagi, kau tidak memberiku kesempatan bahwa aku ada. Bahkan untuk menunjukkan padamu bahwa aku mampu menjadi yang terbaik. Untuk mencintaimu.
Lagi-lagi aku bermain UNO sendirian. Bersama bayanganmu. Dan juga tembok di depanku. Ibuku hanya mampu melihat dari depan kamar rumah sakit yang kini kutempati. Aku tidak mengerti mengapa beliau selalu menangis ketika melihatku menangis. Lebih lagi, aku tidak tahu kenapa aku ditempatkan dalam kamar isolasi ini.
"Oke, Deal!" kataku kepadamu dari ujung ranjang.
Aku mengambil tumpukan kartu yang berserak di tengah kita, memulai gerakan mengocok kartu, lalu membaginya sama rata sesuai aturan konvensional yang berlaku di seluruh dunia: tujuh kartu untukmu dan tujuh kartu untukku.
Aku mengangkat kartu-kartu yang menjadi bagianku lalu membariskannya di antara jari-jemariku sebelum kulihat semua isinya. Kau menaikkan salah satu sudut bibirmu ke atas setelah melihat kartu-kartu milikmu sendiri berjejer di antara jari-jarimu, senyum nakal yang selalu kaubuat jika berhasil membuatku berteriak mengaduh manja terhadapmu. Dasar nakal! Umpatku dalam hati.
"Kartunya bagus, makasih kocokannya, ya!?" katamu sambil menganggukkan kepalamu sekali ke arahku, "Punya kamu bagus, nggak?"
Aku mengecutkan bibirku sambil menggeleng. Kau tertawa cekikan setelahnya.
Kau mengambil satu buah kartu di tengah-tengah kita sebagai kartu penunjuk, kartu paling atas yang kau ambil. Kartunya bernomor 6 warna kuning. Kemudian kau meletakkan kartu berwarna kuning bergambar sebuah lingkaran dengan garis miring di tengahnya. Lambang stop. Aku mengangkat bahu, "Jalan lagi," kataku.
Kau tersenyum semakin nakal setelah melihatku mulai tidak senang pada permainan ini. Hei, ini masih awal dan kau mulai menyebalkan! Teriakku dalam hati.
"Oh iya, pasti, dong!" katamu sambil menjatuhkan kartu berwarna kuning dan bergambar dua buah panah yang saling menunjuk. Lambang reverse. Putar balik.
Aku menggigit bibirku, menyipitkan mata, dan melihat wajahmu yang tersenyum lebih dari sekadar nakal. Aku menggelengkan kepalaku sekali. Permainan ini mulai menguji kesabaranku. Tapi, bukannya aku harus senang karena siapa yang kalah harus mencium yang menang. Bermain cinta setelah bermain kartu? Hmm... lakukan!
"Jalan... lagi..." kataku pelan-pelan.
Kau tidak bersuara. Kau menjatuhkan sebuah kartu berwarna hitam dengan mantap ke atas tiga lembar kartu yang berserakan di tengah kita. Kartu berwarna hitam dengan tanda +4 di pinggir kanannya. Aku hanya termangu lalu melihat wajahnya. Aku mengangkat kedua alisku padamu.
"Ya ambil, lah..." katamu sambil menganggukkan kepala dengan wajah menyebalkan.
Aku menggeleng berkali-kali lalu mengambil empat lembar kartu sambil mendenguskan napas. Tahukah kau bahwa permainan ini mulai menyebalkan? Menyebalkan yang menyenangkan karena ada kau sebagai lawanku di sini. Menyenangkan karena dengan adanya kau di sini aku tidak lagi punya alasan untuk merasa kesepian. Ini menyebalkan yang paling menyenangkan! Kau harus tahu itu, Sayang.
Kartumu tinggal tersisa empat, sedangkan kartuku beranak pinak menjadi sebelas lembar yang kini berjejer rapi di jari-jemariku.
***
"Uno games!" teriakmu ketika kartumu telah habis dari genggaman, sedangkan aku, kartuku masih lengkap: sebelas lembar dalam genggaman. Bahkan kau tidak mengizinkanku untuk mengurangi satu lembar kartu pun dari tanganku.
Bermain UNO berarti bermain dengan kesempatan, katamu. Jika ingin menang dalam permainan ini, kita harus pintar-pintar menggunakan kesempatan, katamu lagi. Sekarang aku jadi mengerti, bagaimana aku bisa memenangkan permainan ini jika kau tidak memberikan padaku satu kali saja kesempatan.
Tapi tidak apa-apa, kupikir selagi hukumannya adalah menciummu, tidak apa-apa aku tidak mempunyai kesempatan untuk mengalahkanmu dalam permainan ini. Toh, aku masih memiliki kesempatan untuk menciummu, untuk mencintaimu. Aku membuang sebelas kartuku di tengah-tengah kita, lalu aku tersenyum sambil merangkak menuju tubuhmu. Kau tersenyum lebih nakal dari sebelumnya dan itu membuatku semakin cepat ingin menciummu. Lalu aku berhasil mencapai keningmu.
Aku berhenti bergerak ketika bibirku berada di puncak kepalamu. Rasanya dingin, sepi, getir. Lalu badanku bergetar, kepalamu mulai basah dengan air mata yang jatuh dari mataku. Kau kaku, lalu pelan. Menghilang. Aku mencoba memelukmu, tapi kau tidak ada lagi. Yang tersisa hanya serakan kartu-kartu di depanku. Badanku semakin bergetar, tangisku mulai meriak sementara kau benar-benar tidak ada lagi di depanku. Kuacak tumpukan kartu dengan kedua kakiku sehingga beberapa lembarnya terkoyak. Tubuhmu benar-benar lenyap dari pandanganku dan luka hatiku semakin menganga. Malam mulai beranjak tua tapi aku masih duduk di tepian ranjang sambil menangis.
Sayang, bahkan kau tidak memberikan kesempatan padaku bahwa kaulah satu-satunya. Lebih lagi, kau tidak memberiku kesempatan bahwa aku ada. Bahkan untuk menunjukkan padamu bahwa aku mampu menjadi yang terbaik. Untuk mencintaimu.
Lagi-lagi aku bermain UNO sendirian. Bersama bayanganmu. Dan juga tembok di depanku. Ibuku hanya mampu melihat dari depan kamar rumah sakit yang kini kutempati. Aku tidak mengerti mengapa beliau selalu menangis ketika melihatku menangis. Lebih lagi, aku tidak tahu kenapa aku ditempatkan dalam kamar isolasi ini.
Selasa, 24 Maret 2015
Keretaku tiba terlalu pagi.
Sebenarnya,
aku sedikit berharap stasiun ini terlihat lebih bersahabat. Damai dalam
kebutaan pagi, dingin gelap, yang berteman baik dengan secangkir cokelat panas
seperti yang selalu mereka lakukan.
Turun
dari kereta itu adalah saat pertama lagi kutemui tempat yang sama setelah
terakhir kutatap punggungnya berlalu. Ruas-ruas undak-undakan ubin lantai itu,
tempat kami duduk, dan terakhir kali berpeluk. Tempat wajah-wajahnya kurekam
dalam kamera ponsel. Tempat kami mencandai seorang gadis remaja kulit putih dan
mengira-ngira siapa namanya. Lalu berjanji temu sebelum lenyap dalam toilet
jenis kelamin masing-masing. Aku menyukai itu. Aku menganggapnya sebagai, I
don’t wanna be without you too long.
Ia
menganggapnya sebagai, I haven’t got so much time. Maka, ”Please
meet me at Dunkin Donuts,” tulisnya.
Aku
meninggalkan stasiun ini terakhir kali dengan tangis. Ia menolak untuk mencium.
Hanya memeluk erat selama beberapa saat, lalu berlalu pergi. Tidak menoleh lagi
untuk kedua kali. Aku hanya mengiranya, karena itu hanya akan membuatnya
teramat sedih.
Kami
sudah tak mungkin bersama.
Rasanya
mustahil, seperti matahari tenggelam yang muncul lagi setelah senja.
Meskipun,
rasanya, hanya beberapa bulan saja sebelum hari itu, masih kulihat rindu
bersinar-sinar di matanya. Masih kutatap pilar-pilar, rel yang memanjang, dan
lampu-lampu putih di sepanjang peron sebagai kerlip cinta. Hanya beberapa bulan
saja sebelumnya, air kolam yang tenang di depan stasiun itu masih
mengendapkan rahasia tentang ciuman-ciuman rindu. Percakapan para penjual
jajanan di kios-kios di depannya yang riuh dan lucu. Gerbang tempat berjanji
temu.
Aku
mencintai stasiun ini.
Maka
aku kembali.
Aku
harus menatapnya lagi. Menatapnya diam, menyimpan rahasia-rahasia itu, sekadar
agar aku tahu—masihkah ia sanggup. Atau, haruskah ia melepaskan segala
ceritanya, karena terlalu berat, atau haruskah ia berlalu karena memang teramat
tidak penting.
Jadi,
masihkah sanggup kau, wahai, lampu-lampu putih dan peron-peron yang damai,
untuk menyimpan rahasia-rahasiaku? Kau tak perlu memaksakan diri, tahu…, aku
tahu bahwa sebelum kami, sudah terlalu banyak kisah-kisah yang terjadi. Terlalu
banyak pertemuan, dan perpisahan lagi, di sini…, yang telah begitu lama
menggelayuti tiang-tiang pilarmu ini.
Kau
tak perlu memaksakan diri.
***
Oh,
matahariku terbit lagi di antara pelepah-pelepah dingin pepohon perdu di tepi
kolam itu.
Dan
aku tahu aku akan harus terus menemuimu.
Berani
menatapmu lagi, setelah hari ini. Diam dalam kediamanmu yang magis, dan
heningmu yang pekat, tempat dimana kenanganku melekat. Hariku akan berjalan,
hai loket-loket mungil dan lonceng-lonceng kecil. Kau juga. Lihat, lampu-lampu
putihmu telah mulai mati. Aku tahu engkau harus bersiap untuk satu kisah lagi.
Maka
akan kurelakan kenanganku di sini. Biar saja melekat. Karena aku tahu, saat
kubiarkan bayangku hilang dari lampu putihmu…, engkau masih akan tetap kuat.
***
a
Senin, 22 Desember 2014
I was driving a friend’s car to get here.
Mine is still in the garage after the last time my brother used it in a road trip with his bunch of friends. It was amazing I still remembered that little winding road, you know, and all the junctions and the turnpikes, too. I thought the park would still look the same way the last time we went there, the same way the last summer evening we spent sitting on the bench waiting for the night to fall. It did. Nothing really changed. That old tyre was still hanging on the oak, swinging as quietly as the last time I saw it. The bench was empty just the way we last left it. The birds were flying south.
It was only the trees that changed.
I was stunned to find the bright red, and orange, covering every corner of the road. Some of them were scattered on the bench, on the road-signs, at the rooster statue that leads to the way to your house. I guess this was what you meant. The autumn, in the stories you have always told me.
I miss all those stories now.
I thought I’d get lost.
I spent all the minutes in the car trying to remember every little signs that could help me stay on the right way. I went past a yellow board I wasn’t sure what was written on it—either “don’t” or “death”—then I pulled over and got out just to find it out. It says “deers”. And then I remembered everything you said about those bunches of creatures that would likely come crossing the road from every possible direction. About one you once found dead one morning on this very same place, gotten hit by a car the night before.
And then I remembered everything you said.
All the town legends you heard from your father when you were a kid. I remembered the way you recited the farm songs you used to hear in the kindergarten. I remembered everything you said about Mrs. Dominski, who lived next door, and all her seven husbands. I remembered your laughters. Your every little smirk, and all your sarcasms about what we heard on the radio.
And the way you smile.
And the way you kissed me in the middle of my speech.
I guess, in the end, that was what’s been keeping me on the right track along this road—that finally takes me to your door.
I have been pulling my head apart, trying to find the best things I should say to you the moment you find me there. Maybe it’s those craps we heard on the radio. Maybe it’s my apology, that I should have said long before I knew you really decided to stop calling. Maybe it’s my hope that you don’t move on so quickly, because…, because maybe there are too many other pretty girls that it should take you some time to pick one.
Because I don’t think you would want to pick a combo.
That is just so not you.
Or maybe it is just my time to finally drive back to where we were, because I have tried every other possibilities to deal with the days I didn’t see you anymore. I have figured out several scenarios like, moving away, or changing jobs, or having a haircut, or swallowing swords, or poking my eyeballs, but those just seem impossible. There are other scenarios that look impossible to me like…, like the earth stops rotating, and revolving, because it gets tired or it has been kicked away too far from the sun, that the sun loses its gravity, and then asteroids and meteors chrases and I don’t even know what I’m talking about here because I just really, really… miss you.
So how about no reasons. For I have missed you through all these seasons.
And I’m already at your door now.
Will you please open up?
I’ve missed you.
***
Mine is still in the garage after the last time my brother used it in a road trip with his bunch of friends. It was amazing I still remembered that little winding road, you know, and all the junctions and the turnpikes, too. I thought the park would still look the same way the last time we went there, the same way the last summer evening we spent sitting on the bench waiting for the night to fall. It did. Nothing really changed. That old tyre was still hanging on the oak, swinging as quietly as the last time I saw it. The bench was empty just the way we last left it. The birds were flying south.
It was only the trees that changed.
I was stunned to find the bright red, and orange, covering every corner of the road. Some of them were scattered on the bench, on the road-signs, at the rooster statue that leads to the way to your house. I guess this was what you meant. The autumn, in the stories you have always told me.
I miss all those stories now.
I thought I’d get lost.
I spent all the minutes in the car trying to remember every little signs that could help me stay on the right way. I went past a yellow board I wasn’t sure what was written on it—either “don’t” or “death”—then I pulled over and got out just to find it out. It says “deers”. And then I remembered everything you said about those bunches of creatures that would likely come crossing the road from every possible direction. About one you once found dead one morning on this very same place, gotten hit by a car the night before.
And then I remembered everything you said.
All the town legends you heard from your father when you were a kid. I remembered the way you recited the farm songs you used to hear in the kindergarten. I remembered everything you said about Mrs. Dominski, who lived next door, and all her seven husbands. I remembered your laughters. Your every little smirk, and all your sarcasms about what we heard on the radio.
And the way you smile.
And the way you kissed me in the middle of my speech.
I guess, in the end, that was what’s been keeping me on the right track along this road—that finally takes me to your door.
I have been pulling my head apart, trying to find the best things I should say to you the moment you find me there. Maybe it’s those craps we heard on the radio. Maybe it’s my apology, that I should have said long before I knew you really decided to stop calling. Maybe it’s my hope that you don’t move on so quickly, because…, because maybe there are too many other pretty girls that it should take you some time to pick one.
Because I don’t think you would want to pick a combo.
That is just so not you.
Or maybe it is just my time to finally drive back to where we were, because I have tried every other possibilities to deal with the days I didn’t see you anymore. I have figured out several scenarios like, moving away, or changing jobs, or having a haircut, or swallowing swords, or poking my eyeballs, but those just seem impossible. There are other scenarios that look impossible to me like…, like the earth stops rotating, and revolving, because it gets tired or it has been kicked away too far from the sun, that the sun loses its gravity, and then asteroids and meteors chrases and I don’t even know what I’m talking about here because I just really, really… miss you.
So how about no reasons. For I have missed you through all these seasons.
And I’m already at your door now.
Will you please open up?
I’ve missed you.
***
