Kucing Hitam by Edgar Allan Poe

on 04.42



Dari narasi terliar namun sederhana yang hendak kukisahkan ini, aku sama sekali tidak berharap atau meyakini apapun. Aku pasti gila bila mengharapkan sesuatu, karena jelas-jelas seluruh akal sehatku telah menolak bukti-bukti yang ada. Aku masih waras – dan yang pasti, aku tidak sedang bermimpi. Aku paham, kematian akan menjemputku esok, untuk itu aku akan melepaskan seluruh beban jiwaku hari ini. Keinginan terbesarku adalah hidup di atas bumi ini secara sederhana, tanpa beban dan tanpa keluhan; hanya menjalani rangkaian peristiwa kehidupan yang biasa-biasa saja. Keinginanku ini telah banyak mendatangkan kengerian tersendiri bagiku – menyiksaku, menghancurkanku. Namun aku tak ingin menceritakannya di sini. Bagiku, semua itu adalah kisah horor dalam kehidupanku – meskipun bagi sebagian orang mungkin kisahku tak sebanding dengan kisah-kisah begaya baroque yang hebat.

Beberapa pendapat intelektual mungkin akan mematahkan kisah fantasiku ini di beberapa bagian – pendapat-pendapat intelektual yang lebih tenang, lebih logis, dan jauh lebih menjemukan dari apa yang akan kukemukakan. Meskipun demikian, aku akan menanggapinya dengan biasa saja, karena semuanya tak lebih dari rangkaian sebab dan akibat alami yang sederhana.

Sejak kecil, aku telah dikenal karena sifatku yang lemah-lembut dan memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Kelembutan hatiku begitu jelas terpancar sehingga seringkali menjadi bahan lelucon bagi kawan-kawanku. Aku sangat menyukai hewan, dan kedua orang tuaku pun memanjakanku dengan mengizinkanku memelihara berbagai jenis hewan peliharaan. Bersama mereka aku banyak menghabiskan sebagian besar waktuku, dan tak pernah kurasakan kebahagiaan yang jauh lebih besar dibandingkan saat-saat aku memberi makan dan bercengkerama dengan mereka. Karakter aneh ini bertambah kuat seiring dengan pertumbuhanku, dan begitu aku beranjak remaja, aku semakin menegaskan bahwa ini merupakan salah satu sumber kesenanganku yang utama. Bagi mereka yang telah merasakan cinta-kasih dari seekor anjing yang setia dan cerdas, maka penjelasanku mengenai apa yang kurasakan mungkin dapat dipahami dengan mudah oleh mereka. Ada sesuatu yang terasa dari cinta-kasih yang begitu tulus dan penuh pengorbanan dari hewan itu, yang hanya dapat dirasakan secara langsung oleh mereka yang telah seringkali mengalami pahit-manisnya jalinan persahabatan dengan sesama manusia biasa.

Aku menikah di usia muda, dan betapa senangnya saat kudapati bahwa istriku pun memiliki sifat yang sama. Ia tak pernah mengeluh atau menolak keinginanku untuk memelihara hewan peliharaan. Kami memelihara burung, ikan emas, seekor anjing yang manis, beberapa ekor kelinci, seekor kera kecil, dan seekor kucing.

Kucing yang kami miliki ini berukuran sangat besar dan sangat cantik, seluruh tubuhnya berwarna hitam, dan ia luar biasa cerdas. Berbicara mengenai kecerdasan si kucing, istriku, yang sesungguhnya tidak mempercayai hal-hal supranatural, namun terkadang ia pun mengaitkan kecerdasan hewan tersebut dengan pendapat kuno, yaitu bahwa seluruh kucing berwarna hitam merupakan penjelmaan penyihir. Aku paham bahwa pendapatnya tersebut tidaklah serius ia kemukakan – dan alasan kuceritakan hal ini, hanya karena kebetulan saja terlintas di benakku.

Pluto – nama kucing itu – adalah hewan peliharaan yang paling kusukai dan ia juga merupakan temanku bermain. Aku sendiri yang selalu memberinya makan, dan ia juga selalu mengikutiku kemana pun aku pergi di sekeliling rumah. Dan aku selalu mengalami kesulitan untuk mencegahnya mengikutiku ketika keluar rumah.

Persahabatan kami berlangsung lama, tepatnya selama bertahun-tahun, bahkan ketika aku harus melewati masa-masa di mana temperamen dan karakterku mengalami perubahan radikal terburuk – (betapa malunya aku untuk mengakui ini). Hari demi hari, suasana hatiku berubah menjadi semakin tak menentu, aku menjadi orang yang semakin menyebalkan, dan semakin tidak peduli terhadap perasaan orang lain. Aku mulai berbicara dengan kata-kata kasar dan penuh amarah pada istriku, hingga akhirnya berlanjut dengan menyakitinya secara pribadi. Perubahan sifatku ini pun harus dirasakan pula oleh hewan-hewan peliharaanku. Aku tak hanya mengabaikan mereka, namun juga memperlakukan mereka dengan buruk. Namun, khusus bagi Pluto, aku berusaha menahan diri untuk tidak menyakitinya; sedangkan bagi para kelinci, kera, atau bahkan si anjing, aku sama sekali tidak menahan diriku untuk memperlakukan mereka dengan buruk, terutama bila tanpa sengaja mereka melintas atau berada di dekatku. Penyakitku ini kurasakan bertambah semakin parah – karena bagiku, penyakit adalah bagaikan Alkohol! – hingga pada akhirnya, Pluto, yang kini semakin tua dan semakin mengesalkan, harus pula merasakan dampak dari temperamen burukku.

Pada suatu malam, saat pulang dalam keadaan sangat mabuk, aku merasa bahwa kucing itu mengabaikan kedatanganku. Aku pun dengan geram langsung menangkapnya; perbuatan kasarku itu membuatnya takut, sehingga ia pun melukai tanganku dengan gigi-giginya. Amarahku semakin memuncak seketika, seolah iblis telah menguasaiku. Aku bukanlah diriku lagi. Jiwaku seperti melayang pergi meninggalkan ragaku; dan sebagai gantinya, sesuatu yang lebih buas, kasar serta menakutkan mengisi ragaku yang kosong itu. Tanganku meraih sebuah pisau-pena dari dalam saku mantelku, kubuka, sementara tanganku yang lain masih memegangi si kucing, kemudian pisau itu kutusukkan ke arah matanya dan mencongkel bola mata kucing malang itu! Aku memerah, aku terbakar, aku merasa jijik, saat melakukan perbuatan kejam tersebut.

Begitu pagi datang dan kesadaranku mulai pulih – aku jatuh tertidur setelah melalui malam yang melelahkan – aku merasakan perasaan yang bercampur-aduk, sebagian dari diriku merasa ketakutan, sebagian merasa amat menyesal, karena perasaan bersalah dari perbuatanku semalam; namun di sisi lain, aku pun merasa lemah dan bimbang, serta merasa bahwa jiwaku tetap tak tersentuh. Aku menenangkan hatiku dengan cara menenggelamkan diriku dengan minum-minum anggur, agar peristiwa itu cepat terlupakan.

Sementara itu, kesehatan si kucing perlahan mulai membaik. Matanya yang telah tercongkel sungguh menunjukkan pemandangan yang mengerikan, namun ia tampak tak lagi merasakan sakit. Kucing itu telah mampu menjalani kebiasaannya seperti semula, yaitu berjalan kesana-kemari keliling rumah, namun segera melarikan diri dengan penuh ketakutan begitu kudekati. Hatiku sedih dan merasakan kehilangan yang amat mendalam begitu menyaksikan peristiwa tersebut, menyadari bahwa makhluk yang dulu pernah begitu menyayangiku kini berbalik membenciku. Kondisi ini perlahan mendatangkan rasa kesal bagiku. Lalu pada akhirnya, seolah-olah hendak melengkapi keterpurukkan jiwaku, hadirlah sifat JAHAT yang kemudian mengisiku. Tak ada akal sehat yang menyertai sifat ini. Aku tak lebih yakin bahwa jiwa murniku masih hidup, dibandingkan dengan keyakinanku bahwa kejahatan merupakan bagian dari detak jantung manusia – yaitu, salah satu sifat atau sentimen dasar yang mewarnai dan menggambarkan karakter seorang manusia. Mengapa mereka yang telah berulang kali, mendapati dirinya melakukan perbuatan jahat atau bodoh, dengan alasan yang tak lain karena mereka paham bahwa perbuatan itu tak seharusnya dilakukan, masih terus melakukannya? Bukankah kita memiliki kecenderungan yang selalu dilakukan secara terus-menerus, dalam kemampuan penilaian kita yang terbaik, yaitu bahwa Hukum tercipta untuk dilanggar, semata-mata karena kita sesungguhnya memahami bahwa itulah yang seharusnya terjadi? Sifat jahat ini, seperti yang telah kukatakan, menjadi pelengkap akhir dari keterpurukkan jiwaku. Bagaikan penantian panjang dan hasrat mendalam dari jiwaku untuk menyakiti dirinya sendiri – menawarkan kekejaman bagi dirinya sendiri – melakukan perbuatan buruk demi keburukan itu sendiri – yang mendorongku untuk terus melanjutkannya dan melahap sendiri rasa sakit dari perbuatan kejamku pada hewan malang itu. Pada suatu pagi, dengan darahku yang dingin, aku melilitkan seutas tali di lehernya dan menggantungkannya di batang sebuah pohon; aku melakukannya dengan berderai air mata, dan kegetiran dari rasa sesal tersirat di dalam hatiku; aku menggantungnya karena kutahu ia pernah menyayangiku, dan karena karena ia tak memberiku alasan untuk menyakitinya; aku menggantungnya karena dengan perbuatan itu aku telah melakukan sebuah dosa – dosa besar yang balasannya akan diterima oleh jiwaku yang fana – jika hal itu memang mungkin terjadi – bahkan melampaui jangkauan pengampunan dari Tuhan, Sang Maha Pengampun dan Sang Maha Besar.

Malam harinya, pada hari yang sama aku melakukan perbuatan kejam itu, tiba-tiba aku terbangun dari tidur karena suara desiran api. Tirai-tirai di sekeliling ranjangku terbakar oleh nyala api. Seluruh rumah pun terbakar. Aku, istriku, dan seorang pelayan kami mengalami kesulitan ketika menyelamatkan diri dari kobaran api yang menjilat-jilat. Semua hancur. Seluruh kekayaan duniawiku habis dilalap api, dan aku mendapati diriku terkalahkan dan putus asa.

Aku berada pada puncak lemahku untuk mencari rangkaian sebab dan akibat, di antara musibah dan kekejaman ini. Namun berusaha untuk merinci rantai fakta-fakta – dan bertekad agar tak satupun sambungan rantai itu tidak sempurna. Satu hari setelah peristiwa kebakaran itu, aku kembali mengunjungi puing-puing bekas kebakaran. Salah satu dinding di rumahku telah runtuh, tepatnya dinding sebuah kompartemen; ukurannya tidak terlalu tebal dan berdiri di sekitar bagian tengah rumah, serta berada di sisi lain kamar tidurku, berbatasan dengan bagian kepala ranjangku.  Bagian plester yang melapisinya, sanggup menahan kobaran api – sebuah fakta yang kuyakini ada karena beberapa saat sebelumnya dinding itu baru dilapisi lapisan plester tersebut. Di sekitar dinding ini, beberapa orang tengah berkumpul; mereka memeriksa dan mengamati setiap bagian dengan bersungguh-sungguh. Kata-kata “aneh!” “ajaib!” dan berbagai seruan lain serupa terlontar dari mulut-mulut mereka, dan membuat rasa penasaranku semakin membesar. Aku bergerak mendekat dan melihat, seperti sebuah ukiran timbul pada permukaan putih, dengan bentuk seekor kucing yang amat besar. Detail ukiran itu tampak sangat akurat dan luar biasa mengagumkan Ada seutas tali yang melilit leher kucing itu.

Ketika pertama kali aku melihat pemandangan ini, rasa penasaran dan perasaan takut yang kurasakan sangatlah kuat. Namun tiba-tiba sebuah ingatan sedikit membantuku. Aku masih ingat, kucing itu tergantung di sebuah pohon yang tumbuh di halaman, pohon itu berbatasan langsung dengan rumah. Begitu peristiwa kebakaran terjadi, halaman itu segera dipenuhi oleh orang-orang yang datang –  seseorang pasti telah memotong tali yang menggantung kucing itu dan melemparkannya, melalui jendela yang terbuka, ke dalam kamar tidurku. Hal ini mungkin dilakukan ketika melihatku sudah terbangun dari tidur. Reruntuhan dinding-dinding lainnya telah menekan jasad dari korban kekejamanku ke dalam cairan plester yang baru saja disapukan beberapa waktu lalu; campuran cairan kapur dan zat amonia dari jasad itu, ditambah dengan panasnya kobaran api, telah menciptakan suatu bentuk ukiran seperti yang kulihat tersebut.

Meskipun aku mencoba berpikir dengan seluruh akal sehatku mengenai kejadian itu, namun fakta yang begitu detail tersebut tak sanggup kuhilangkan dari dalam benakku dan terus mengusik rasa penasaranku. Selama berbulan-bulan, fantasi tentang kucing itu terus menghantuiku; dan sepertinya, selama masa-masa tersebut, jiwa sentimenku yang separuh hilang kini telah kembali, meskipun aku tak sepenuhnya yakin, yaitu perasaan menyesal. Perasaan menyesal itu kurasakan cukup mendalam; aku menyesal bahwa hewan itu telah pergi dan penyesalan pun kurasakan ketika melihat ke sekelilingku, seolah-olah para hewan dari spesies yang sama, atau berpenampilan sama, yang tampak serupa dengan si kucing, kini terus menghantui dan tampak selalu berkeliaran di sekitarku.

Pada suatu malam, ketika aku duduk terdiam, masih dalam kondisi jiwaku yang buruk, mataku tiba-tiba terpaku pada sesosok obyek berwarna hitam. Sosok itu tengah berbaring di salah satu patung babi hutan berkuran besar berwarna seperti Gin atau seperti Rum, yang menjadi bagian utama dari seluruh perabotan di apartemen itu. Aku berusaha untuk menatap dengan teliti ke atas patung babi hutan itu selama beberapa menit, dan sesuatu yang membuatku terkejut adalah, aku tak menyadari keberadaan obyek itu sebelumnya. Aku memutuskan untuk bergerak mendekatinya, dan menyentuhnya dengan tanganku. Obyek itu adalah si kucing hitam – dengan ukuran yang sangat besar – ukurannya sebesar Pluto, dan setiap detail tubuhnya sangat serupa dengan Pluto. Seluruh bulu di tubuh Pluto sepenuhnya berwarna hitam, tak ada sehelaipun berwarna putih; namun kucing yang satu ini memiliki bagian bulu yang berwarna putih, meskipun tidak terlalu mencolok, bulu-bulu itu menutupi hampir seluruh bagian dadanya.

Ketika tanganku akan mendekat untuk menyentuhnya, ia tiba-tiba bangkit, dan mengeong nyaring, menggosokkan tubuhnya di tanganku, dan tampak senang dengan kehadiranku. Hewan seperti inilah yang selama aku cari. Seketika itu pula aku mendatangi sang pemilik apartemen dengan niat untuk membeli hewan itu; namun orang itu berkata bahwa ia bukanlah pemilik kucing tersebut – ia tak tahu-menahu tentang keberadaan kucing itu – ia bahkan belum pernah melihatnya sebelumnya.

Aku masih tetap membelai-belai kucing itu, dan ketika aku hendak beranjak pulang, ia menunjukkan sikap ingin turut serta bersamaku. Aku pun mengizinkannya untuk ikut; sesekali aku masih membelai dan mengusap-usap bulunya di sepanjang perjalanan kami. Begitu kami tiba di rumah, ia langsung membuat dirinya nyaman seolah-olah itu memang rumahnya, dan istriku pun langsung jatuh hati padanya.

Sedangkan bagi diriku sendiri, entah dari mana datangnya namun rasa benci itu segera muncul di dalam diriku. Ini merupakan kebalikan dari apa yang selama ini berupaya untuk kuhindari; namun aku sama sekali tak mengerti bagaimana atau mengapa perasaan ini muncul – rasa suka itu berubah menjadi rasa jijik dan rasa terganggu. Perlahan, rasa jijik dan rasa terganggu ini semakin tumbuh menjadi kebencian yang pahit. Aku berusaha untuk menghindari makhluk itu; ada rasa malu, dan kilasan kenangan mengenai perbuatan kejamku di masa lalu yang selalu menghantui, sehingga mencegahku untuk berupaya melukai makhluk itu secara fisik. Selama berminggu-minggu, aku sama sekali tak berusaha untuk memukulnya atau menciderainya; namun pada akhirnya, secara perlahan-lahan – sangat perlahan – aku melihatnya dengan rasa enggan yang tak terucapkan, dan selalu menghindari keberadaannya yang menjijikkan secara diam-diam, seolah-olah aku ingin menjauhkan diri dari wabah penyakit menular.

Untuk semakin menegaskan kebencianku terhadap kucing itu, adalah penemuan yang baru kusadari pada keesokan paginya setelah malam sebelumnya kuambil kucing itu, yaitu, seperti Pluto, kucing itu juga kehilangan salah satu matanya. Namun kondisi kekurangannya tersebut malah membuatnya semakin dicintai oleh istriku, seperti yang telah kukatakan sebelumnya, ia adalah wanita yang memiliki jiwa kemanusiaan yang amat besar, yang dulu pernah pula kumiliki dan kujadikan sebagai sumber kesenanganku, namun kini sifat itu menjadi sangat menjijikan bagiku.

Keenggananku untuk berurusan dengan kucing itu semakin meningkat di dalam diriku. Hewan itu, dengan keras hati, terus mengikuti kemanapun kakiku melangkah, hal ini mungkin sedikit sulit untuk kujelaskan kepada pembaca secara rinci. Kapanpun ia berbaring, ia akan selalu merangkak ke bawah kursi yang kududuki, atau naik ke pangkuanku dan bermanja-manja dengan malas. Ketika aku beranjak berdiri, ia akan berjalan perlahan di antara kedua kakiku hingga hampir membuatku terjatuh, atau, menancapkan cakar-cakarnya dengan lembut pada pakaian yang kukenakan, kemudian bergerak ke atas hingga posisinya seperti bergantung pada dadaku. Pada saat-saat demikian, meskipun hatiku begitu kuat ingin menghancurkannya, namun aku masih sanggup untuk menahan diri; sebagian karena kenangan perbuatan kejiku di masa lalu masih terlintas di dalam benakku, namun alasan yang utama adalah – izinkan aku untuk mengakuinya kali ini saja – karena rasa takutku yang amat besar pada kucing itu.

Ketakutan yang kumiliki bukan karena melihat penampilan fisiknya yang menyeramkan – sedikit sulit bagiku untuk menjelaskan alasannya di sini. Aku malu untuk mengakui – ya, bahkan dengan jiwa jahatku yang besar ini, aku sangat malu mengakui – bahwa ketakutan dan kengerian yang ditimbulkan oleh hewan itu bagiku tampak seperti keseraman makhluk chimaera. Istriku telah beberapa kali mengingatkanku bahwa kucing itu memiliki bulu berwarna putih di bagian dadanya, sangat berbeda dengan kucing yang pernah kubinasakan sebelumnya. Pembaca mungkin masih ingat, bahwa bagian tubuhnya yang berbulu putih itu memang cukup lebar namun tidaklah terlalu terlihat mencolok; meskipun pada awalnya bagiku tidak terlihat mencolok – bahkan aku bersikeras untuk menganggapnya tidak terlihat sama sekali – tapi, semakin lama bagian itu menjadi bagian nyata dan memberikan perbedaan yang tegas. Keberadaan makhluk yang membuatku bergetar untuk menyebutkannya – dan untuk hal ini, melebihi segala hal lainya, aku merasa enggan dan amat ketakutan, dan ingin mengenyahkan diriku sendiri dari dekat monster itu – kini, seperti berubah menjadi sosok yang sangat menyeramkan, mengerikan yang bangkit dari TIANG GANTUNGAN! Kesengsaraan dan Kematian – oh, mesin pencabut nyawa dan penghukuman yang menyedihkan dan menakutkan.

Dan kini aku terpuruk di tengah-tengah keterpurukan sisi kemanusiaanku. Dan hewan itu – saudaranya yang telah kubinasakan sebelumnya – terus menghantuiku; ia membayang-bayangiku dengan kekuatan pengaruhnya yang bagaikan Dewa Tertinggi – oh! Aku tak tahan, sialan! kini, siang atau malam, aku tak lagi merasa tenang! Kucing yang sebelumnya tak pernah membiarkanku sendiri; dan kini, kucing yang berikutnya, selalu menghantuiku dengan mimpi-mimpi menyeramkan dan mendapati makhluk itu menghembuskan napas panasnya di wajahku, serta membebaniku dengan bobotnya yang berat – sungguh mimpi buruk yang tak sanggup kujauhkan dari diriku – ia terus merongrong hatiku, selamanya!

Di bawah tekanan siksaan yang tak kunjung berhenti ini, sisi lemahku sepertinya memilih untuk menyerah kalah. Namun, pikiran-pikiran jahat muncul dan menjadi sahabat baikku – pikiran terjahat dan tergelap. Ketidakstabilan hati dan jiwaku kini semakin parah menjadi kebencian pada semua hal dan semua orang; meledaknya amarahku yang muncul secara mendadak, sering dan tak terkendali itu telah membutakan hatiku, dan seperti sebelum-sebelumnya, istriku yang tak pernah mengeluh dan penyabar itu menjadi korban utama pelampiasan amarahku.

Pada suatu hari, istriku menemaniku untuk mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga. Ia mengikutiku pergi ke gudang bawah tanah dari bangunan tua ini, tempat tinggal yang terpaksa harus kami huni karena tekanan kemiskinan yang harus kami alami. Kucing itu mengikutiku menuruni tangga yang curam, dan, ia hampir saja membuatku terjungkal jatuh, hingga mendorongku ke puncak amarahku. Secara spontan, aku mengangkat kapak, dan dengan gelap mata, segala rasa takutku terhadapnya seolah hilang. Kuayunkan senjata itu, dan hendak menghunjamkannya ke tubuh makhluk tersebut, dengan harapan bahwa ia akan segera binasa. Namun tangan istriku segera menahan perbuatanku. Merasa terhalang oleh intervensi tersebut, amarahku semakin menggila, aku menarik tanganku dari genggaman istriku dan menghunjamkan kapak tersebut pada kepalanya. Ia menghembuskan napas seketika itu pula, dan jatuh terkulai tanpa rintihan.

Pembunuhan keji itu baru saja terjadi, aku pun segera menyadarkan diriku sendiri; dengan segenap usaha aku berpikir untuk menyembunyikan jasad wanita itu. Aku tak mungkin membawanya pergi dari rumah, baik di siang maupun malam hari, tanpa risiko bahwa para tetangga mungkin saja melihat. Aku memutar otak, berbagai ide muncul di dalam benakku. Sesaat aku berpikir untuk memotong-motong jasad itu menjadi beberapa bagian kecil, dan menghilangkan jejak dengan cara membakar potongan-potongan tubuh tersebut. Sesaat kemudian, ide untuk menggali lubang di lantai gudang bawah tanah dan menguburnya di sana terlintas pula di dalam kepalaku. Lalu, berpikir untuk membuang jasad itu ke dalam sumur di halaman – atau, memasukkannya ke dalam kardus dan membungkusnya sedemikian rupa dan serapi mungkin hingga tampak seperti suatu produk pabrik, lalu memanggil kurir untuk membawanya pergi dari rumah. Namun, pada akhirnya aku menemukan ide yang kuanggap terbaik dibandingkan ide-ide lainnya. Aku memutuskan untuk menyembunyikannya di dinding gudang bawah tanah – seperti yang katanya biasa dilakukan oleh para biarawan pada zaman pertengahan, di mana mereka menguburkan para korbannya di dalam dinding.

Aku rasa, inilah salah satu fungsi gudang bawah tanah. Dinding-dinding di dalam ruangan ini dibangun secara longgar, dan diberi sapuan lapisan plester seadanya, yang masih terasa basah karena kelembapan di dalam ruangan ini sangat tinggi sehingga sulit bagi lapisan tersebut untuk kering. Selain itu, pada salah satu dindingnya terdapat bagian yang menjorok ke depan, seperti tempat cerobong asap dan perapian, namun bagian itu pun telah diisi dengan material sehingga menjadi selaras dengan bagian ruangan lainnya. Aku sangat yakin bahwa tempat itu cocok bagiku untuk menyembunyikan jasad tersebut; aku hanya perlu mengeluarkan material yang mengisi rongga itu, lalu memasukkan jasadnya, dan mengisinya kembali dengan material sehingga tetap terlihat sama seperti semula.

Aku merasa yakin dengan perincian dan perhitungan rencanaku ini. Dengan bantuan linggis, dengan mudah aku dapat merobohkan batu-batu bata yang tersusun, dan dengan hati-hati aku kemudian menyandarkan jasad itu ke dinding di belakangnya. Aku mengalami sedikit kesulitan ketika harus menyusun ulang batu-batu bata tersebut ke tempatnya semula. Telah kusiapkan mortar, pasir dan serat, dengan segala perhitungan yang tepat, selain itu, aku pun telah menyiapkan cairan plester yang serupa dengan cairan semula; kusapukan cairan plester tersebut dengan sangat hati-hati di atas dinding bata yang baru kususun. Setelah pekerjaan itu selesai, aku merasa puas dengan hasilnya dan semua tampak biasa-biasa saja. Dinding itu tak menunjukkan perbedaaan dari sebelumnya. Kotoran dan sampah yang berserakan di lantai gudang kuambil satu per satu dengan saksama. Aku melihat ke sekeliling dengan rasa bangga dan lega, kukatakan pada diriku sendiri – “Akhirnya, pekerjaanku tak sia-sia.”

Tugasku berikutnya adalah mencari kemana perginya kucing itu; kucing yang telah menyebabkan segala kerepotan ini. Aku telah bertekad bulat untuk membinasakannya. Bila aku melihatnya saat itu juga, maka tamatlah riwayatnya saat itu pula; namun, sepertinya hewan cerdik itu mengerti bahwa aku hendak menghabisi nyawanya, terutama setelah melihat betapa murkanya diriku sebelumnya, sehingga kurasa ia memilih untuk menghindariku dalam suasana hatiku yang sedang buruk ini. Sulit bagiku untuk mendeskripsikan secara rinci, atau untuk membayangkan, betapa dalam dan betapa bahagia serta leganya perasaanku dengan perginya makhluk menjijikkan itu. Bahkan hingga malam hari datang, ia masih tidak menampakkan batang hidungnya – dan untuk pertama kalinya, sejak kehadiran kucing itu di rumahku, aku dapat tidur dengan begitu nyenyak; ya, tidur dengan sangat nyenyak meskipun beban dari rasa bersalah karena telah melakukan pembunuhan masih menggelayuti jiwaku!

Hari kedua dan ketiga berlalu begitu saja, dan tetap, pegancam jiwaku itu masih belum menampakkan dirinya. Sekali lagi, aku sanggup bernapas seperti orang yang merdeka. Monster yang terus menghantuiku itu kini telah pergi entah kemana, untuk selamanya! Aku tak perlu lagi melihatnya! Inilah puncak kebahagiaanku! Rasa bersalah dari perbuatan jahatku memang masih mengganggu, tapi sangat sedikit saja. Beberapa pertanyaan memang telah bermunculan, namun semua telah terjawab. Bahkan pencarian pun telah dilakukan – namun tentu saja, tak ada yang dapat ditemukan. Aku merasa bahwa kebahagiaan masa depanku sudah terjamin dan aman.

Menginjak hari keempat setelah peristiwa pembunuhan itu, sekelompok polisi tanpa terduga, mendatangi rumahku, dan melakukan penyelidikan secara saksama ke seluruh penjuru rumah. Aku merasa aman, tempatku menyembunyikan jasad itu tak mungkin ditemukan, tak sedikitpun rasa bersalah terpancar dari wajahku. Para petugas kepolisian itu memintaku untuk turut menemani mereka melakukan penyelidikan ke sekeliling rumah. Tak ada celah atau satu sudut pun yang luput dari pengamatan mereka. Kemudian, setelah tiga atau empat kali berkeliling rumah, mereka memutuskan untuk turun ke gudang bawah tanah. Aku tak merasa tegang atau bergetar. Detak jantungku masih berdegup dengan tenang, seperti seseorang yang tengah tertidur dengan lelap. Aku berjalan menyusuri setiap sisi gudang itu. Tangan kulipat di depan dadaku, dan bergerak dengan santai kesana-kemari. Para petugas polisi tampaknya telah selesai meneliti ruangan itu dan mereka pun hendak beranjak pergi. Rasa bahagiaku bergelora di dalam dada dan sulit bagiku untuk menahan luapannya. Aku pun berucap kepada mereka, dengan nada yang penuh dengan kemenangan, dan untuk menegaskan kepada mereka bahwa aku tidak bersalah.

“Tuan-tuan,” aku berseru, ketika sekelompok polisi itu menaiki anak tangga, “Saya senang karena telah berhasil menjawab segala kecurigaan Anda semua. Saya harap Anda semua sehat selalu, dan semoga Anda dapat bersikap lebih sopan lain kali. Perlu Anda semua ketahui, tuan-tuan, ini adalah rumah yang dibangun dengan konstruksi terbaik.” (Dengan hasratku yang menggebu untuk mengatakan sesuatu yang sederhana, pada kenyataannya aku sama sekali tak tahu apa yang keluar dari mulutku) – “Saya yakin sekali, ini rumah yang dibangun dengan tepat. Dinding-dinding ini – Anda ikut, tuan-tuan? – dinding-dinding ini disusun dengan sempurna”; dan di sini, dengan keberanian yang tak masuk akal, aku menghantam dengan sekeras mungkin, menggunakan tongkat yang ada di dalam genggamanku, bagian dinding bata tempat aku menyembunyikan jasad istriku.

Namun, atas perlindungan Tuhan dan penyelamatan-Nya atas diriku dari mulut iblis! Tak lama setelah gema pukulan tongkatku pada dinding itu berhenti, aku mendengar suara yang berasal dari balik dinding tersebut! –suara tangisan yang mulanya tertahan namun kemudian pecah, seperti anak kecil yang menangis sesenggukan, lalu berlanjut menjadi suara teriakan panjang, nyaring dan terus-menerus, namun suara itu terdengar tidak biasa dan tidak seperti suara manusia – lebih tepatnya, seperti suara lolongan – memekik dengan lantang, sebagian terdengar seperti sesuatu yang menyeramkan tapi sebagian lagi terdengar seperti suara kemenangan seolah-olah suara itu berasal dari neraka. Seperti perpaduan suara jeritan yang keluar dari mulut mereka yang telah dikutuk, memekik kesakitan dan suara para iblis yang berska-ria menghukum para penghuni neraka tersebut.

Pikiran-pikiran tak keruan terlintas di dalam benakku, dan akan terdengar begitu bodoh jika kujelaskan. Aku gontai dan sempoyongan, hingga bersandar pada dinding di sisi lain. Selama beberapa saat, para petugas kepolisian yang masih berdiri di anak tangga hanya terdiam dan bergerak, mereka merasa heran dan sedikit ketakutan. Kemudian, selusin lengan yang kuat mulai menghantam-hantam dinding. Semua terasa sangat nyata. Jasad itu, dalam kondisi yang sudah membusuk dan bersimbah darah, berdiri dengan tegak di hadapan seluruh orang yang berada di dalam ruangan itu. Sementara di atas kepalanya, ada sesosok makhluk seram dengan mulut merah yang terbuka dan satu mata yang tampak seperti dipenuhi kobaran api, bertenggerlah monster yang telah mendorongku untuk melakukan pembunuhan itu, dan suara nyaringnya yang telah mengantarkanku ke tiang gantungan. Jadi, selama ini aku telah mengubur kucing monster itu di balik dinding!

Black Cat, Edgar Allan Poe - 2012 © copyright Sun Flowers.

0 komentar:

Posting Komentar